Arsip Kategori: Makalah

Mutiara Nasehat al-Habib Umar bin Hafidz

1. Penuhilah hatimu dengan kecintaan terhadap saudaramu niscaya akan menyempurnakan kekuranganmu dan mengangkat derajatmu di sisi Allah

2. Barang siapa Semakin mengenal kepada allah niscaya akan semakin takut. 

3. Barang siapa yang tidak mau duduk dengan orang beruntung, bagaimana mungkin ia akan beruntung dan barang siapa yang duduk dengan orang beruntung bagaimana mungkin ia tidak akan beruntung. 

4. Barang siapa menjadikan kematiaannya sebagai pertemuan dengan sang kekasih (Allah), maka kematian adalah hari raya baginya. 

5. Barang siapa percaya pada Risalah (terutusnya Rasulullah), maka ia akan mengabdi padanya. Dan barang siapa percaya pada risalah, maka ia akan menanggung (sabar) karenanya. Dan barang siapa yang membenarkan risalah, maka ia akan mengorbankan jiwa dan hartanya untuknya.

6. Kedekatan seseorang dengan para nabi di hari kiamat menurut kadar perhatiannya terhadap dakwah ini. 

7. Betapa anehnya bumi, semuanya adalah pelajaran. Kukira tidak ada sejengkal tanah di muka bumi kecuali di situ ada ibrah (pelajaran) bagi orang yang berakal apabila mau mempelajarinya. 

8. Sebaik-baik nafsu adalah yang dilawan dan seburuk-buruk nafsu adalah yang diikuti. 

9. Tanpa menahan hawa nafsu maka manusia tidak akan sampai pada Tuhannya sama sekali dan kedekatan manusia terhadap Allah menurut kadar pembersihan jiwanya. 

10. Jikalau sebuah hati telah terbuka, maka akan mendapatkan apa yang diinginkan. 

11. Barang siapa yang mempunyai samudra ilmu kemudian kejatuhan setetes hawa nafsu, maka hawa nafsu itu akan merusak samudra tersebut. 

12. Sesaat dari saat-saat khidmat (pengabdian) , lebih baik daripada melihat arsy dan seisinya seribu kali. 

13. Menyatunya seorang murid dengan gurunya merupakan permulaan di dalam menyatunya dengan Rasulullah SAW. Sedangkan menyatunya dengan Rasulullah SAW merupakan permulaan untuk fana pada Allah (lupa selain Allah) 

14. Manusia di setiap waktu senantiasa terdiri dari dua golongan, golongan yang diwajahnya terdapat tanda-tanda dari bekas sujud dan golongan yang di wajahnya terdapat tanda-tanda dari bekas keingkaran. 

15. Barang siapa yang menuntut keluhuran, maka tidak akan peduli terhadap pengorbanan. 

16. Sesungguhnya di dalam sujud terdapat hakikat yang apabila cahanya turun pada hati seorang hamba, maka hati tersebut akan sujud selama-lamanya dan tidak akan mengangkat dari sujudnya. 

17. Beliau RA berkata tentang dakwah, Yang wajib bagi kita yaitu harus menjadi daI dan tidak harus menjadi qodli atau mufti (katakanlah wahai Muhammad SAW inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah dengan hujjah yang jelas aku dan pengikutku) apakah kita ikut padanya (Rasulullah) atau tidak ikut padanya? Arti dakwah adalah memindahkan manusia dari kejelekan menuju kebaikan, dari kelalaian menuju ingat kepada Allah, dan dari keberpalingan kembali menuju kepada Allah, dan dari sifat yang buruk menuju sifat yang baik. 

18. Syetan itu mencari sahabat-sahabatnya dan Allah menjaga kekasih-kekasih- Nya. 

19. Apabila ibadah agung bagi seseorang maka ringanlah adap (kebiasaan) baginya dan apabila semakin agung nilai ibadah dalam hati seseorang maka akan keluarlah keagungan adat darinya. 

20. Bila benar keluarnya seseorang (di dalam berdakwah), maka ia akan naik ke derajat yang tinggi. 

21. Keluarkanlah rasa takut pada makhluk dari hatimu maka engkau akan tenang dengan rasa takut pada kholiq (pencipta) dan keluarkanlah berharap pada makhluk dari hatimu maka engkau akan merasakan kenikmatan dengan berharap pada Sang Kholiq. 

22. Banyak bergurau dan bercanda merupakan pertanda sepinya hati dari mengagungkan Allah dan tanda dari lemahnya iman. 

23. Hakikat tauhid adalah membaca Al Qur’an dengan merenungi artinya dan bangun malam. 

24. Tidak akan naik pada derajat yang tinggi kecuali dengan himmah (cita-cita yang kuat). 

25. Barang siapa memperhatikan waktu, maka ia akan selamat dari murka Allah. 

26. Salah satu dari penyebab turunnya bencana dan musibah adalah sedikitnya orang yang menangis di tengah malam. 

27. Orang yang selalu mempunyai hubungan dengan Allah, Allah akan memenuhi hatinya dengan rahmat di setiap waktu. 

28. Salah satu dari penyebab turunnya bencana dan musibah adalah sedikitnya orang yang menangis di tengah malam.

Semoga kita bisa mengambil hikmah dari catatan ini

Silahkan SHARE ke rekan anda jika menurut anda note ini bermanfaat

Sumber : milist majelisrasulullah@yahoogroups.com
Shared By Catatan Catatan Islami Pages

Jomblo Sebagai Bukti Kekuatan Iman Remaja

Menurut sebagian besar, khususnya di kalangan remaja, jomblo adalah status seseorang yang menunjukkan pribadi kuper, gak gaul, ketinggalan jaman, katrok, ndeso atau kampungan. Ada lagi yang sering kali jadi julukan, bahwa seorang yang jomblo adalah makhluk yang tidak laku.
Seseorang dikatakan tidak jomblo ketika dia memiliki pacar. Padahal status pacar dan jomblo itu sekedar status sosial dalam kehidupan gaul remaja. Jadi, mereka yang memiliki pacar merasa gaul dan merasa selamat dari status jomblo. Mereka yang berstatus jomblo dianggap suatu aib dalam pergaulannya.
Karena pacar sekedar status sosial kehidupan gaul remaja, maka berpacaran hanya dijadikan kebanggaan dalam pergaulan mereka, sama sekali tidak ada niat untuk melanjutkan ke jenjang bahtera rumah tangga. Alasan mereka yang sekedar berpacaran karena mereka masih di bawah umur. Jadi, ngapain make meried segala? Begitu alasan yang sering kali kita dengar.
Kebanggaan itu terasa ketika mereka berkumpul dengan teman-temannya, jalan-jalan berdua, dan saat galau ada yang menamani. Ketika berkumpul dengan teman-temanya, mereka sangat bangga karena di sampingnya ada seorang pacar, apa lagi teman-temannya bersama pacarnya. Ketika berjalan –ke mana aja- bisa boncengan, bisa gandengan, dan bisa makan berduaan di restoran atau warung. Ketika galau tidak lagi bingung harus mengadu pada siapa, bisa langsung minta ditemenin pacarnya.
Mungkin itu aktifitas pacaran yang standart. Ada aktifitas pacaran yang lebih dari itu. Dalam kehidupan gaul remaja, selain pacaran sebagai status pribadi, pacaran juga sebagai hiburan sehari-hari yang dipenuhi aktifitas pelampiasan hasrat syahwat. Sekarang marak kelakuan mesum, seks bebas, dan hamil di luar nikah, itu semua terjadi karena status konyol itu (pacaran). Bahkan ada yang menganggap, jika masih belum pegangan, ciuman, dan pelukan, itu dianggap sebagai aib dalam kehidupan gaul mereka. Lebih parah lagi, jika masih perawan atau perjaka pun dianggap ketinggalan jaman. Na’udzubillah…
Jika seorang remaja tidak memiliki pacar, siapa saja pasti yakin, dia tidak akan pernah berduaan, saling memandang penuh hasrat, pegangan, merapat, pelukan, ciuman, meraba-raba, apa lagi melakukan ‘hal itu’. Begitulah gambaran mulia seorang jomblo; dia tidak pernah berduan dengan lawan jenis, yang pada ujungnya akan sampai pada aktiftas… (gituan itu). Nau’udzubillah.
Jomblo itu bukan berarti dia kuper, ndeso, gak gaul, ketinggalan jaman, apalagi tidak laku atau tidak pernah jatuh cinta. Seseorang jomblo itu memiliki beberapa alasan, diantaranya: Pertama, karena sibuk dengan aktifitasnya, baik profesi atau pun pendidikan. Kedua, karena menutup hati sebab dia sudah mencintai seseorang meskipun tidak mungkin dimilikinya. Ketiga,karena pacaran dianggap sesuatu yang tidak bermanfaat. Keempat, karena mempertahankan reputasi yang seandainya dia berpancaran makan nama baik dia akan tercemar. Kelima, karena bingung menentukan pilihan, sehingga dia memilih jomblo. Keenam, karena tidak memiliki nyali untuk mengungkapkan perasaannya. Ketujuh, karena trauma sebab tembakan pertama ditolak. Kedelapan, karena dia menganggap bahwa dengan tidak pacaran dia akan mendapatkan jodoh yang tidak pernah pacaran juga (baik). Kesembilan, karena semata-mata ingin menjaga kesucian dirinya (keimanannya).
Selain alasan-alasan di atas, jomblo juga memiliki nilai mulia bagi seorang remaja. Karena dengan status jomblo dia akan terhindar dari perbuatan yang tidak bermoral, sebagaimana yang marak saat ini. Artinya, pacaran itu lebih rawan mengantarkan seseorang kepada maksiat dan Jomblo (pasti) membuat seseorang lebih terjaga dari perbuatan yang dilarang agama. Tepatnya, sebenaryna jomblo merupakan salah satu upaya menjaga diri untuk tidak menuruti hawa nafsu. Uapaya tersebut adalah cirri-ciri orang yang beriman. Allah berfiman:
قُلْ لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّواْ مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُواْ فُرُوجَهُمْ ذالِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (30) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُن… (31)
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. (QS. An-Nur: 30-31)
Ayat di atas menjelaskan tentang keimanan seseorang. Jika dia beriman, seharusnya dia menahan pandangannya agar tidak menjurus pada perbuatan hasrat syahwat. Salah satu upaya yang jitu untuk menahan pandangan adalah jomblo. Karena jomblo lebih aman dari perbuatan hasrat syahwat. Namanya juga jomblo, makhluk yang selalu sendirian. Orang yang sendirian memang mau melakukan ‘hal itu atau gituan’ dengan siapa? hehehe… Jadi, seorang yang jomblo termasuk seseorang yang beriman yang secara otomatis dia menahan pandangannya, dan tentu tidak ada kesempatan untuk melakukan perbuatan menuruti hasrat 
syahwat

Meluruskan Pradigma Masyarakat Tentang Alumni Pesantren

“Penjara suci”. Begitulah ungkapan yang digunakan untuk mengistilahkan suatu komunitas yang di dalamnya memiliki lingkungan, aktifitas, dan sistem yang sangat berbeda dengan kehidupan pada biasanya. Ungkapan lumrahnya, “pesantren”.

Disebut penjara karena seseorang yang berada di dalamnya tidak boleh keluar kecuali ketika hari-hari libur, atau karena ada kebutuhan mendesak dan itu pun harus ada izin dari seorang pimpinannya. Jika keluar tanpa izin maka akan dianggap kabur dan akan disangsi, sebagaimana aturan penjara yang sebenarnya. Disebuat suci karena seseorang yang masuk di dalamnya yang awalanya tidak tahu agama menjadi tahu agama, yang awalnya kurang baik akan menjadi baik, dan mungkin awalnya tidak baik akan menjadi baik. Begitulah komunitas yang pada lumrahnya disebut pesantren. Seseorang yang masuk di dalam disebut santri.

Sebagaimana yang tertera di atas, bahwa pesantren memiliki lingkungan, aktiftas, dan sistem yang berbeda dengan kehidupan pada biasanya. Dari sisi lingkungan, kehidupan pesantren memang sangat berbeda. Semisal dari penampilannya, semua orang yang berada di dalamnya, setiap hari dan malamnya tidak lepas dari sarung, peci, baju muslim atau jubah. Dari sisi pergaulannya, santri tidak banyak berintraksi dengan banyak orang, kecuali teman-temannya yang juga ada di dalamnya. Masih banyak dari sisi lingkungan lainnya.

Dari sisi aktifitasnya, santri diwajibkan mengikuti pengajian al-Qur’an atau pun kitab kuning, shalat berjama’ah, shalat malam. Selain itu, ada nasehat yang secara rutin disampaikan oleh pimpinannya, atau yang biasa disebut “kiai”. Nasehat utama yang sering disampaikan adalah harus mengaji dan berakhlakul karimah. Berbagai aktifitas yang kesemuanya itu bertujuan untuk melahirkan seorang kader yang soleh. Sehingga dengan tujuan itu, komunitas ini disebutlah “penjara suci.

Memang, pesantren merupakan lembaga yang mengupayakan tidak hanya cerdas intlektual dan emosional, bahkan tujuan utamanya adalah cerdas spiritual. Oleh sebab itu, santri harus memiliki ilmu (agama) dan mengamalkannya, harus memiliki prilaku yang baik yang bisa dicontoh oleh orang lain, dan harus memiliki keistiqamahan dalam beribadah. Dengan tujuan itu, diharapkan santri yang sudah keluar dari pesantren atau menjadi alumni harus menjadi orang yang baik dalam segala hal, sehingga orang-orang di luar pesantren meyakini bahwa psantren memang penjara suci.

Paradigma Masyarakat Tentang Alumni Pesantren

Seseorang yang sudah keluar dari pesantren disebut alumni pesantren. Tentu, seseorang yang sudah pernah berada di pesantren lalu keluar, akan memiliki nilai khusus dari masyarakat. Setiap ucap dan sikapnya tidak lepas dari penilaian masyarakat. Dari itu, jika ada ucap dan sikap yang keliru, akan menjadi masalah bagi masyarakat. Semisal ada komentar, “Padahal si A itu alumni pesantren, tapi sikapnya kok seperti itu”. Berbeda seseorang yang tidak pernah masuk pesantren, jika ada kekeliruan dari sikapnya, paling masyarakat berkomentar begini, “Biasalah dia begitu, kan bukan alumni pesantren”.

Begitulah masyarakat menilai seorang alumni pesantren. Bagi mereka, alumni pesantren merupakan seseorang yang harus memiliki karakter yang baik, sehingga ucap dan sikapnya pun memancarkan kemuliaan. Namun, penilaian yang menurut mereka baik, lebih banyak didasarkan pada hal-hal yang tampak saja. Sehingga, alumni pesantren yang memiliki nilai kebaikan yang mulia namun tidak tampak, oleh masyarakat tidak dipandang sebagai alumni pesantren yang baik atau sukses.

Contoh penilaian masyarakat yang didasarkan pada hal-hal yang tampak adalah alumni pesantren yang menjadi tokoh masyarakat, seperti kiai yang memiliki pesantren, ustadz yang mengisi ceramah di mana-mana, guru atau Pengusaha sukses bahkan PNS dan lain sebagainya.

Alumni yang menjadi orang seperti di atas, itulah menurut masyarakat alumni pesantren yang baik dan sukses. Jika kita pahami hal ini, sepertinya kebaikan dan kesuksesan seorang alumni pesantren diukur dari status sosial, pangkat, dan kedudukan. Sementara alumni pesantren yang tidak menjadi orang tersebut, dianggap sebagai alumni yang tidak baik dan tidak sukses. Penilain ini sungguh naïf.

Ada lagi penilaian masyarakat yang sungguh sangat tidak pantas, yaitu penilaian yang diukur dari material atau harta. Jadi alumni yang memiliki pekerjaan atau bisnis yang menghasilkan uang banyak, mobil motor dan membuat dia akaya, itulah alumni pesantren yang baik dan sukses, bahkan ada yang beranggapan itu barokah. Sepertinya barokah diduga sesuatu yang berbentuk uang. Sementara alumni pesantren yang hidupnya serba kekurangan dianggap alumni yang tidak sukses dan tidak memiliki barokah. Ini merupakan paradigma yang konyol.

Bukti penilaian itu biasanya kita sering dengar dari pembicaraan masyarakat. Semisal, “Si A itu sekarang menjadi Kiai. Itu baru alumni pesantren yang sukses”, “Setelah si A keluar dari pesantren dapat tiga minggu sudah diundang ceramah ke mana-mana. Dia memang alumni pesantren yang sukses”, “Si A itu sudah jadi PNS. Itu barokah dari pondoknya”, “Sekarang si A itu sudah jadi guru PNS, sukses dia ya”, dan masih banyak pembicaraan lainnya tentang alumni pesantren yang dinilai dari hal-hal yang tampak seperti itu.

Jika alumni pesantren yang suskses dinilai dari hal-hal di atas, maka alumni yang tidak menjadi orang-orang tersebut dianggap tidak sukses. Itu merupakan paradigma yang harus dilruskan. Sebab, banyak alumni yang sebenarnya sukses, namun kesuksesan itu tidak termasuk pada penilaian hal-hal yang tampak.

Sebenarnya, untuk mengetahui kebaikan dan kesuksesan alumni pesantren dilihat sejauh mana dia tetap istiqamah dalam ibadah, memiliki akhlakul karimah, dan memberi manfaat kepada orang lain. terserah dia mau jadi apa atau siapa. Menjadi kiai atau ustadz tapi tidak memberi manfaat yang jelas, tidak bisa dikatakan alumni yang baik dan sukses. Bisa saja dia menjadi kiai karena ingin memiliki status social, bisa saja dia yang menjadi ustadz yang diundang ke mana-mana, ternyata isi ceramahnya hanya sekedar kata-katanya saja, tidak menjadi kelakuan diri sendiri. Apalagi hanya sekedar menjadi PNS dan Pengusaha

Oleh sebab itu, masyarakat harus cerdas menilai alumni pesantren. Jangan sampai menilai alumni dari sisi status social, kedudukan, pangkat, apalagi dari sisi material. Pesantren sama sekali tidak memiliki tujuan seperti itu. Pesantren bertujuan mengkader seseorang menjadi hamba yang soleh. Tentu hamba yang soleh selalu istiqamah dalam ibadah, berakhlakul karimah, dan bisa memberi manfaat kepada orang lain.

Ada paradigma lagi dari masyarakat, yaitu alumni pesantren yg tidak menjadi apa-apa (semisal menjadi pengangguran) atau bahkan menjadi sampah masyarakat (semisal menjadi pencuri, perampok, pecandu narkoba, mnjadi budak di negeri orng dll). Ketika itu semua terjadi, oleh masyarakat yg dianggap salah adalah pondoknya. Hal itu biasa kita denger dari omongan masyarakat. Semisal, “itu si A mondok di pesantren ….. tidak menjadi apa-apa”, “Itu si B mondok di pesantren….. suka keluyuran terus dan jarang solat”, “Itu si C menjadi maling padahal sudah mondok bertahun-tahun”.

Dari komentar tersebut, seolah yang dianggap salah itu pesantrennya. Itu paradigama yg keliru juga. Karena t
idak ada pesantren yang mengkadar santrinya untuk menjadi pengangguran, maling, tukang keluyuran, pemabuk dan lain sebagainya. Sebagaimana telah dijelaskan, bahwa tujuan pesantren itu untuk mengkader seseorang menjadi baik dan soleh.

Lalu kenapa ada alumni yang menjadi pemabuk, maling, pecandu, dan sebagainya? Itu dimungkinkan ada kesalahan dari pihak orang tua, bisa saja uang yang dikirim kepada anaknya ketika di pesantren bukan uang halal. Atau, anaknya sendiri ketika berada di pesantren tidak mengikuti apa-apa yang seharusnya dilakukan di pesantren. Dan jika uang yang dikirim halal dan anaknya sudah mengikuti semua yang diwajibkan di pesantren ternyata setelah pulang menjadi orang yang tidak baik, berarti kita harus kembali pada Allah, bahwa kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan Allah yang menentukan dari semua usaha.

Manusia Adalah Makhluk Latihan

Merenungi pesan guru kita (KH. Rosyad Imam : Pengasuh Ponpes Todungih)

Dalam majelis pengajiannya beliau mengatakan “Manusia adalah makhluq latihan”.

Artinya kalau mau langsung jadi orang baik itu sulit, makanya harus dilatih. Ingin jadi orang yang sabar itu sulit, tapi harus dilatih dulu dengan cara pura-pura sabar, walaupun dalam hati mangkel, biarlah pura-pura sabar dulu, akhirnya jadi sabar beneran.

Mau jadi dermawan, ya harus pura-pura dermawan, meski dalam hati ada rasa eman tetap mengasih, ahirnya jadi dermawan beneran. Mau rendah hati, ya pura-pura rendah hati dulu, nanti jadi rendah hati beneran. Intinya kalau mau jadi orang baik, pura-pura baik dulu, nanti jadi orang baik.

Itulah sebabnya para santri di pesantren, dipaksa terus untuk mengikuti shalat berjama’ah, musyawarah, mengaji, shalat dluha, witir dan kegiatan lainnya. Bukan berarti mendidik mereka untuk tidak ikhlas tapi melatih diri mereka agar terbiasa melakukan kebaikan-kebaikan.

Katika mereka sudah terbiasa, ahirnya mereka meresa tidak enak kalau tidak mengerjakannya. Mdreka akan melakukannya tanpa dipaksa. Demikian apa yang bisa kami simpulkan dari ketetangan beliau, kurang lebihnya mohon maaf.

Rahasia Dibalik Liburnya Kegiatan Pesantren Pada Hari Selasa

Sebagian besar pondok pesantren di Indonesia, selain meliburkan kegiatan ma’hadiyah utamanya pada hari jum’at, juga meliburkan kegiatan pada hari selasa. Kesempatan ini sering diisi materi tambahan oleh para asatidz di masing-masing lembaga. Namun hal ini mengundang tanda tanya besar dalam hati para santri. Kenapa kebanyakan pesantren meliburkan kegiatannya pada hari tersebut?

Gunung-gunung yang tercipta sebagai pengkokoh bumi, itu tercipta pada hari selasa.

Gunung itu ibarat ulama’ yang merupakan benteng pengkokoh untuk tegaknya syariat islam. Jika gunung-gunung habis, maka dunia akan hancur. Begitu juga jika ulama habis, maka hancurlah agama islam.

Itulah sebabnya banyak para ulama yang meliburkan pengajiannya pada hari tersebut. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Syaikhina KH. Maimun Zubair (Mbah Moen) Pengasuh Peantren Al anwar Sarang.

Masih menurut Mbah Moen, kebanyakan para ulama itu wafat pada hari selasa. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada kebanyakan ulama yang ada di daerah Sarang Rembang Jateng, kediaman beliau.

Disarikan dari tabloid Media Ummat Malang

Doa Agar Ditempatkan Di Tempat Yang Barokah

(َ رَبِّ أَنْزِلْنِي مُنْزَلًا مُبَارَكًا وَأَنْتَ خَيْر الْمُنْزِلِينَ)
Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi, dan Engkaulah sebaik-baik pemberi tempat. [Surat Al-Mu’minun : 29]
Dengan do’a di atas Nabi Nuh ketika berhasil memgarungi banjir mohon agar diturunkan dan didamparkan pada tempat yang penuh berkah, dalam artian tempat yang baik, berguna, aman, sejahtera, subur dan damai. Karena Allah sebaik-baik pemberi tempat
Jika doa di atas dibaca oleh kita, tentu artinya kita mohon kepada Allah agar dimanapun kita berada, maka mudah-mudahan tempat yang kita injak penuh dengan barokah, berguna bagi diri kita, keluarga, bangsa, negara dan kehidupan.
Bisa jadi kita oleh Allah ditempatkan di tempat yang belum berkah, akan tetapi nantinya berkat do’a tersebut, berubah menjadi berkah.

Pesan Alumni Kepada Santri PPT

lambang+iast-pinggiran.jpg

Adik-adik santri sekalian………!
Bagaiman kabar kalian, masihkah kerasan di pondok tercinta itu?
Semoga Allah melindungi adik-adik sekalian.

Sebagai santri Pondok Pesantren Todungih (PPT), harus selalu ingat bahwa kapanpun dan dimanapun saja kalian nantinya berada, dituntut untuk untuk membawa ajaran islam sesuai dengan pesan-pesan pengasuh PPT.

Sebagai alumni yang sudah terjun langsung dalam kehidupan masyarakat, kami merasakan dahsyatnya gelombang hidup bermasyarakat. Di zaman globalisasi ini, pandai-pandailah kalian mengemudi dan menfilter langkah-langkah yang kalian cita-citakan.

Gelombang yang besar, arus yang deras dan terjal selalu menghadang dan menghalangi kami para alumni di dalam langkah memperjuangkan apa yang kani peroleh di pesantren.
Oleh karena itu, kalian para santri perlu menyiapkan diri untuk menghadapinya sehingga selamat dari jurang kenistaan yang akan membawa kalian menjadi grobak sampah masyarakat.

Adik-adik santri sekalian………!
Ingatlah! bahwa yang akan kalian hadapi, jauh lebih dahsyat dari apa yang kami hadapi sekarang ini, siapkan diri kalian untuk menjawab masalah aktual yang terjadi di masyarakat kita, serta perkuatlah mintal kalian sebagai bekal dakwah di tengah-tengah mereka.

Semoga apa yang menjadi cita-cita kalian, terkabul dengan ridlo dan idzin Allah, amin.

Pustaka Online Baca Kitab Di Internet

lambang+iast-pinggiran.jpg
Sebagai alumni pesantren yang hidup ditengah-tengah masyarakat, kita menghadapi realita dan masalah aktual yang terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman.
Sementara kita sendiri, untuk menjawabnya sering kewalahan, karena kekurangan kitab sebagai referensi. Keadaan tidak seperti masih dipesantren yang dengan mudah kita dapatkan referensi kitab salaf yang kita butuhkan, entah pinjam milik teman, ustadz atau perpustakaan, serta bisa bertanya langsung kepada ustadz dan kyai.

Kadang kita ingat sepotong-sepotong dari jawabannya, kadang ingat kitab dan babnya saja tanpa ingat kejelasan hukumnya, sedangkan untuk membuka kembali, kitab itu sudah tiada karena dulu kita cuma pinjam milik teman atau perpustakaan.

Mengatasi kesulitan macam itu, salah satunya dengan memanfaatkan website yang menyediakan kitab-kitab salaf untuk dibaca secara online. Salah satunya adalah http://library.islamweb.net/newlibrary/index.php yang menyediakan berbagai macam kitab salaf dari empat madzhab ahlus sunnah wal-jama’ah, dan jika anda kesulitan mengunjunginya, langsung klik di sini

Saran dari kami, jika menemukan keterangan yang di maksud, jangan langsung diambil atau copas (copy paste), bandingkan dulu dengan kitab aslinya, siapa tahu ada kesalahan tek atau kurang, tapi kami yakin jika anda termasuk kutu kitab, anda bisa meraba-raba akan kebenaran tanpa melihat kitab aslinya.syukson!!!