Arsip Kategori: Kajian

Shalat Itu Paling Sempurna Serta Paling Komplit

Shalat adalah dzikir yang paling sempurna.
Shalat adalah dzikir yang menghadap kiblat.
Shalat adalah dzikir yang menggunakan wudhu.
Shalat adalah dzikir yang komplit: takbir, tahmid, tasbih, tahlil. Dalam shalat ada al-Fathihah dan ayat-ayat lainnya dari al-Quran.
Dalam shalat ada banyak rangkaian doa kepada Allãh swt.
Oleh karena itu, barangsiapa yang ingin urusannya dibereskan oleh Allãh, perbaikilah shalatnya. Bermain-main dengan shalat berarti kita bermain-main dengan pertolongan Allãh.
Dari status FB Mas Dwy Sadoellah

PHBI – Menyatukan Dan Mengarahkan Karakter Pemimpin Yang Berbeda, Oleh RKH. Abdul Adzim S.Fil.M.H

Jum’at 02 Muharrom 1439 H, terselenggara acara PHBI (Peringatan Hari Besar Islam) oleh Pengurus IAST yang dibantu oleh Korda Klerker Panaguan Pamekasan. Pengurus menghadirkan  RKH. Abdul Adzim S.Fil.M.H, Pamekasan dalam kegiatan tersebut sebagai penceramah.
Ulama kharismatik asal Madura tersebut mengawali ceramahnya dengan menceritakan kembali sejarah pembentukan kalender Hijriyah, yang mana pembentukan kalender ini bermula ketika Sayyidana Umar menjabat sebagai Khalifah.
Beliau juga menjelaskan bahwa kendatipun tahun hijriyah dimulai pada bulan Muharrom, bukan berarti Rasulullah hijrah pada bulan tersebut, karena Rasulullah hijrah di bulan Maulid.
Tidak hanya itu, beliau menjelaskan tentang karakter para pemimpin sebuah organisasi yang berbeda-beda. Menurut Ulama’ muda ini, dalam sebuah organisasi, Staf maupun Anggota, punya karakter yang berbeda. Oleh karna itu kita tidak bisa merubah karakter tersebut,  tapi kita harus mengarahkannya ke arah yang bermanfaat kepada perjuangan, sebagaiman strategi Rasullullah, tanpa pandang bulu.
Lebih lanjut beliau memberi contoh dengan empat sahabat terbaik Rasulullah :
1 Abu Bakar Shiddiq RA, penyabar
2 Umar Bin Khottob RA, berkarakter Keras
3 Utsman Bin Affan RA, Jutawan dan ermawan
4 Ali Bin Abi Tholib KW, karakternya lehi (cak pleca’an : kata orang Madura)
Ada dua poin dalam keorganisasian :
1. Konsisten
2. Konsekuensi
Semoga apa yang disampaikan bermanfaat bagi kita semua, hususnya IAST, amin.
Penulis : Khoirunnas
  • Kontributor : Ach. Maushul

Menelisik Histori Muharam Dan Hijriyah

 Oleh Amirul Ulum*

Islam mempunyai dua belas bulan dalam hitungan satu tahun menurut hitungan yang telah ditetapkan. Empat bulan di antaranya adalah bulan yang dimuliakan oleh Allah Swt. Tiga bulan letaknya berurutan, yaitu, bulan Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharam (Asyura). Yang keempat yaitu bulan Rajab yang bertempat  antara Jumadil Tsani dengan bulan Sya’ban.
Kemuliaan bulan-bulan tadi telah diabadikan Allah Swt dalam al-Quran surat At-Taubah: ayat 36 yang artinya “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu,dan perangilah musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi semuanya; dan ketahuilah bahwasannya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa.”
Muharam adalah bulan pertama yang dipakai di kalender umat Islam (penanggalan Qomariyah atau Hijriyah). Menurut riwayat para ulama pakar tarikh yang masyhur, tarikh Islam mula-mula ditetapkan oleh Umar bin Khattab Ra ketika ia menjadi khalifah pada tahun 17 Hijriyah. Menurut kisahnya, hal ini terjadi disebabkan pada suatu hari, Umar menerima sepucuk surat dari sahabatnya, Abu Musa Al-Asy’ari Ra tanpa dibubuhi tanggal dan hari pengirimannya. Hal itu menyulitkan bagi Umar untuk menyeleksi surat yang mana terlebih dahulu harus diurusnya, sebab ia tidak menandai antara surat yang lama dan yang baru. Oleh sebab itu, Umar mengadakan musyawarah dengan orang yang terpandang dikala itu untuk membicarakan serta menyusun masalah tarikh Islam.
Musyawarah yang diselenggrakan Umar bersama para sahabatnya tadi telah menghasilkan beberapa pilihan tahun bersejarah untuk dijadikan sebagai patokan memulai tarikh Islam tersebut. Yaitu, tahun kelahiran Nabi Muhammad, tarikh kebangkitannya menjadi Rasul, tahun wafatnya, atau ketika Nabi hijrah dari Makkah ke Madinah. Di antara pilihan tersebut, akhirnya ditetapkanlah bahwa tarikh Islam dimulai dari hari hijrahnya Nabi Muhammad Saw dari Makkah menuju Madinah menjadi awal tarikh Islam, yaitu awal tahun Hijriyah. Hal ini sesuai dengan usulan Ali bin Thalib.
Ada beberapa alasan mengapa Hijrahnya Nabi Muhammad Saw yang ditetapkan sebagai awal tarikh Islam (tahun Hijriyah)? Hal ini tidak lain karena hijrahnya Nabi Muhammad Saw mempunyai nilai yang lebih dalam sejarah perkembangan dakwah Islamiyah. Setelah Nabi Muhammad Saw hijrah ke Madinah, dakwah Islam mulai mencapai kejayaannya yang gemilang. Berbeda dengan sebelum hijrah, umat Islam merupakan golongan yang selalu ditindas dan disiksa oleh kaum Musyrikin. Dengan hijrahnya Nabi Muhammad Saw dan kaum muslimin ke Madinah berarti Islam telah mempunyai kedudukan yang kuat dan telah terbentuk di dalamnya sebuah negara Islam yang memiliki peraturan, pimpinan serta undang-undang tersendiri.
Dengan melihat sejarah hijrahnya Nabi Muhammad Saw, diharapkan peristiwa hijrah akan selalu dikenang oleh umat Islam pada tiap-tiap tahun. Di situ sebagai memorial bagaimana perjuangan yang gigih dan pengorbanan tenaga dan jiwa raga Nabi Muhammad Saw dengan para sahabatnya dalam menegakkan Islam. Di samping itu, hijrah Nabi Muhammad Saw juga menunjukkan bahwa Allah telah memisahkan dan membedakan antara yang haq dan yang bathil, membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Hijrah merupakan awal membangun kekuatan umat Islam.
Ada alasan  lain mengapa yang dipilih hijrahnya Rasulullah Saw? Hal ini sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi keluar dari kota Makkah pada hari kamis akhir bulan Shafar, dan keluar dari tempat persembunyiannya di Gua Tsur pada tanggal 2 Rabi’ul Awwal (20 September 622 M) untuk menuju ke Madinah. Dan menurut al-Mas’udi, Rasulullah memasuki Madinah tepat pada malam hari 12 Rabi’ul Awwal. Sementara Umar dan para sahabat-sahabatnya menetapkan awal bulan hijriyah adalah bulan Muharam bukannya bulan Rabi’ul Awwal adalah semata-mata memandang bahwa bulan Muharam adalah bulan yang mula-mula Nabi berniat untuk berhijrah. Selain itu di bulan Muharam ini pulalah para jama’ah haji baru selesai mengerjakan ibadah haji dan pulang ke negerinya masing-masing. Dengan adanya keputusan yang demikian itu, seolah-olah hijrahnya Nabi Muhammad Saw jatuh pada bulan Muharam dan dipandang patut sebagai permulaan tahun di dalam Islam.
Kemuliaan Bulan Muharam
Bulan Muharam adalah termasuk di antara asyhurul hurum dan bulan pembuka dalam setiap tahun Hijriyah. Di bulan itu, Allah Swt  memberi pertolongan kepada Nabi Musa As dan kaumnya dari kezaliman dan kekejaman Fir’aun dan tentaranya. Allah juga telah menyelamatkan Nabi Nuh As Dan kaumnya dari banjir bandang. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 10 Muharam. Maka sebagai rasa syukurnya kepada Allah yang telah menyelamatkannya dari mara bahaya, Nabi Musa As dan Nabi Nuh As berpuasa pada hari tersebut.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Bulan Muharam termasuk salah satu bulan yang dimuliakan Allah. Oleh karena itu, jika seseorang berbuat dosa pada bulan-bulan itu akan lebih besar dan lebih jelas balasannya dari pada bulan-bulan yang lain, laksana maksiat di tanah haram juga akan berlipat dosanya, sebagaimana firman Allah, ”Dan siapa yang bermaksud di dalamnya malakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” (QS. Al-Hajj: 25) 
Karena bulan Muharam merupakan bulan yang diagungkan kemuliaannya, maka sudah sepatutnya orang yang berbuat dosa pada bulan itu dan bulan mulia lainnya akan mendapat dosa yang berlipat ganda. Sedangkan apabila mereka mengerjakan amal saleh di dalamnya, maka pahalanya akan berlipat pula.
* Penulis adalah esais dan ketua Website PP Al Anwar Sarang Rembang asal Pati
Sumber : nu.or.id

Sejarah Tahun dan Bulan Kalender Hijriyyah

Kalender Hijriyah atau Kalender Islam (bahasa Arab: التقويم الهجري; at-taqwim al-hijri), adalah kalender yang digunakan oleh umat Islam, termasuk dalam menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah, atau hari-hari penting lainnya. Kalender ini dinamakan Kalender Hijriyah, karena pada tahun pertama kalender ini adalah tahun dimana terjadi peristiwa Hijrah-nya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 M. Di beberapa negara yang berpenduduk mayoritas Islam, Kalender Hijriyah juga digunakan sebagai sistem penanggalan sehari-hari. Kalender Islam menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya, berbeda dengan kalender biasa (kalender Masehi) yang menggunakan peredaran Matahari.
Sejarah
Penentuan dimulainya sebuah hari dan tanggal pada Kalender Hijriyah berbeda dengan Kalender Masehi. Pada sistem Kalender Masehi, sebuah hari dan tanggal dimulai pada pukul 00.00 dini hari waktu setempat. Namun pada sistem Kalender Hijriah, sebuah hari dan tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari di tempat tersebut.
Kalender Hijriyah dibangun berdasarkan rata-rata silkus sinodik bulan kalender lunar (qomariyah), memiliki 12 bulan dalam setahun. Dengan menggunakan siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya adalah (12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari).Hal inilah yang menjelaskan 1 tahun Kalender Hijriah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan 1 tahun Kalender Masehi.
Faktanya, siklus sinodik bulan bervariasi. Jumlah hari dalam satu bulan dalam Kalender Hijriah bergantung pada posisi bulan, bumi dan matahari. Usia bulan yang mencapai 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan baru (new moon) di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi, dan pada saat yang bersamaan, bumi berada pada jarak terdekatnya dengan matahari (perihelion). Sementara itu, satu bulan yang berlangsung 29 hari bertepatan dengan saat terjadinya bulan baru di perige (jarak terdekat bulan dengan bumi) dengan bumi berada di titik terjauhnya dari Matahari (aphelion). Dari sini terlihat bahwa usia bulan tidak tetap melainkan berubah-ubah (29 – 30 hari) sesuai dengan kedudukan ketiga benda langit tersebut (Bulan, Bumi dan Matahari).
Penentuan awal bulan (new moon) ditandai dengan munculnya penampakan (visibilitas) Bulan Sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atau ijtimak). Pada fase ini, Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari, sehingga posisi hilal berada di ufuk barat. Jika hilal tidak dapat terlihat pada hari ke-29, maka jumlah hari pada bulan tersebut dibulatkan menjadi 30 hari. Tidak ada aturan khusus bulan-bulan mana saja yang memiliki 29 hari, dan mana yang memiliki 30 hari. Semuanya tergantung pada penampakan hilal.
Penetapan kalender Hijriyah dilakukan pada zaman Khalifah Umar bin Khatab, yang menetapkan peristiwa hijrahnya Rasulullah saw dari Mekah ke Madinah. Kalender Hijriyah juga terdiri dari 12 bulan, dengan jumlah hari berkisar 29-30 hari. Penetapan 12 bulan ini sesuai dengan firman Allah Subhana Wata’ala:

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

– At Taubah(9):36 –
Sebelumnya, orang Arab pra-kerasulan Rasulullah Muhammad SAW telah menggunakan bulan-bulan dalam kalender hijriyah ini. Hanya saja mereka tidak menetapkan ini tahun berapa, tetapi tahun apa. Misalnya saja kita mengetahui bahwa kelahiran Rasulullah SAW adalah pada tahun gajah.Abu Musa Al-Asyári sebagai salah satu gubernur pada zaman Khalifah Umar r.a. menulis surat kepada Amirul Mukminin yang isinya menanyakan surat-surat dari khalifah yang tidak ada tahunnya, hanya tanggal dan bulan saja, sehingga membingungkan. Khalifah Umar lalu mengumpulkan beberapa sahabat senior waktu itu. Mereka adalah Utsman bin Affan r.a., Ali bin Abi Thalib r.a., Abdurrahman bin Auf r.a., Sa’ad bin Abi Waqqas r.a., Zubair bin Awwam r.a., dan Thalhan bin Ubaidillah r.a. Mereka bermusyawarah mengenai kalender Islam. Ada yang mengusulkan berdasarkan milad Rasulullah saw. Ada juga yang mengusulkan berdasarkan pengangkatan Muhammad saw menjadi Rasul. Dan yang diterima adalah usul dari Ali bin Abi Thalib r.a. yaitu berdasarkan momentum hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Yatstrib (Madinah). Maka semuanya setuju dengan usulan Ali r.a. dan ditetapkan bahwa tahun pertama dalam kalender Islam adalah pada masa hijrahnya Rasulullah saw. Sedangkan nama-nama bulan dalam kalender hijriyah ini diambil dari nama-nama bulan yang telah ada dan berlaku pada masa itu di wilayah Arab.
Sumber  : Wikipedia dan www.santri.net

Memang kalender hijriyah dimulai sejak nabi hijrah. Dan saat nabi lahir sudah ada nama bulan dan robiul awal tapi tahunnya masih belum dijadikan pedoman.
Dalam Bab keseratus lima belas kitab Bustanul ‘arifin dalam menerangkan hari-hari dan bulan-bulan. Berkata al-Faqih ra. : ketahuilah bahwasannya setahun itu ada 12 bulan :
1.Bulan yang pertamama adalah bulana ”Muharram” dan sesungguhnya bulan itu dinamai Muharram, karena peperangan di bulan tersebut di haramkan dalam hal apapun di era jahiliyah.
2.kemudian ”Shofar” dan sesungguhnya mereka menamai bulan tersebut dengan shofar, karena orang-orang ditimpa oleh satu penyakit, lalu memucat wajah-wajah mereka maka mereka menamai bulan itu dengan shofar, karena pucatnya wajah-wajah di bulan itu.
3.dikatakan oleh satu pendapat, dinamai shofar, karena sesungguhnya iblis shofaro (bersiul) memanggil bala tentaranya ketika keluar bulan muharram, dan telah dihalalkan perang bagi orang-orang.
4.kemudian bulan ”rabiul awwal” karena sesungguhnya bulan itu bertepatan dengan permulaan musim semi (bertunas) maka dinamai dengan Rabiul awwal (musim semi pertama)
5.kemudian bulan ”Rabiul akhir” karena bulan itu bertepatan dengan akhir musim semi (bertunas) maka dinamai dengan Rabiul akhir/ rabiuts tsani (musim semi kedua)
6.kemudian ”jumadil ula” kemudian ”jumadil ukhra” dinamai keduanya dengan jumad (beku) karena dua bulan itu bertepatan dengan musim dingin, ketika sangat dingin dan air membeku.
7.kemudian “Rajab” mereka menamai bulan itu denga rajab, karena bangsa Arab biasa menghormati bulan itu, yakni mengagungkannya, dan mereka menami dengan Ashomm (tuli) karena mereka tidak mendengar suara peperangan di bulan itu.
8.kemudian ”Sya’ban” dinamakan sya’ban karena berbagai suku bangsa arab mengadakan pengelompokan di bulan tersebut, agar mereka bisa terbagi-bagi menjadi beberapa kelompok di bulan tersebut. pendapat lain mengatakan: dinamakan sya’ban karena pada bulan tersebut dibagi-bagikan kebaikan yang berlimpah untuk menghadapi Ramadhan.
9.kemudian ”Ramadhan” mereka menamainya dengan ramadhan karena bertepatan dengan musim panas. dan Ramdan adalah panas yang sangat (menyengat). dan pendapat lain mengatakan: dinamakan Ramadhan, karena akan dihanguskan berbagai dosa pada bulan tersebut.
10. kemudian ”syawwal” mereka menamainya dengan syawwal, karena suku-suku bangsa arab, mengadakan perjalanan berpencar di bulan tersebut, yakni menyingkir dari tempat tinggalnya. pendapat lain mengatakan : mereka menamainya dengan syawwal, karena mereka mengadakan perburuan di bulan tersebut. diambil dari ucapanmu” asylaitul kalba idza arsaltuhu li-shoidin ( aku mengusir anjing, apabila aku mengirim anjing itu untuk berburu)
11.kemudian” dzulqa’dah” mereka menamainya dengan dulqa’dah karena mereka itus selalu duduk-duduk (nyantai) di bulan tersebut, jauh dari peperangan.
12. kemudian ”Dzulhijjah” karena mereka melakukan hajji pada bulan ini.
Maka ini adalah berbagai nama-nama bulan Arab, denagan standar bulan-bulan qamariyah, yang dapat diketahui perhitungannyadengan melalui peredaran bulan, dan bulan qamariyyah adalah perhitungan kaum muslim untuk kepentingan mereka dan berbagai ibadah mereka.
Nama-nama bulan itu sudah ada sejak jaman Arab Jahiliyah, meski penetapan tahunnya tidak konsisten, alias ganti-ganti terus, Misalnya, mereka pernah menggunakan hitungan tahun berdasarkan kematian Amr bin Luhay (seorang tokoh Bani Khuza’ah pembawa agama musyrik di Mekkah), pernah juga mereka menggunakan patokan tahun berdasarkan kematian Hisyam bin Mughiroh, dan yang terahir mendasarkan perhitungan berdasarkan tahun peristiwa invasi pasukan Abrahah ke Mekkah. Lihat Durusut Tarikh. [Nur Hasyim S. Anam, Mumu Bsa, Raden Mas NegeriAntahberantah].
– Bustanul ‘arifin :
‎(الباب الخامس عشر بعد المائة في ذكر الأيام والشهور)(قال الفقيه) رحمه اللَّه: اعلم أن السنة اثنا عشر شهراً أولها محرم وإنما سمي محرماً لأن القتال فيه كان محرماً فيما بينهم في الجاهلية. ثم صفر وإنما سموه صفراً لأن الناس قد أصابهم المرض فاصفرت وجوههم فسموه صفراً لصفرة الوجوه فيه، ويقال سمي صفراً لأن إبليس صفر بجنوده حين خرج محرم وحلّ لهم القتال. ثم شهر ربيع الأول لأنه صادف أول الخريف فسمي الربيع الأول. ثم شهر ربيع الآخر لأنه صادف الخريف فسموه باسم الربيع. ثم جمادى الأولى، ثم جمادى الأخرى. وإنما سميا بذلك لأنهما صادفا أيام الشتاء حين اشتد البرد وجمد الماء، ثم رجب وإنما سموه رجباً لأن العرب كانت ترجبه: أي تعظمه، وكانوا يسمونه أصم لأنهم كانوا لا يسمعون فيه صوت الحرب، ثم شعبان وإنما سمي شعبان لأن قبائل العرب كانت تتشعب فيه أي تتفرق فيه، ويقال إنما سمي شعبان لأن يتشعب فيه خير كثير لرمضان. ثم شهر رمضان ويقال إنما سموه رمضان لأنه صادف أيام الحر والرمضاء الحر الشديد ويقال إنما سمي رمضان لأنه ترمض فيه الذنوب. ثم شوال إنما سموه شوال لأن القبائل العرب كانت تشول فيه: أي تبرح عنموضعها، ويقال إنما سموه شوال لأنهم كانوا يصيدون فيه من قولك أشليت الكلب إذا أرسلته لصيد. ثم ذو القعدة وإنما سموه ذا القعدة لأنهم كانوا يعقدون فيه عن الحرب. ثم ذو الحجة لأنهم كانوا يحجون فيه. فهذه أسامي الشهور العربية بالشهور القمرية التي يعرف حسابها بدوران القمر، وهو حساب المسلمين لآجالهم وعباداتهم
http://www.piss-ktb.com/2012/07/1698-penetapan-tahun-hijriyah.html

Lanjutkan membaca Sejarah Tahun dan Bulan Kalender Hijriyyah

Membaca Tek Saja Tanpa Tahu Kronologi, Berpotensi Salah Faham

Gus Aufal Marom sarang, saat mengajar dikelas
pada tahun 1995 dawuh; “Membaca tulisan tanpa
mengetahui kronologinya bisa salah faham dan
faham salah”.

Kemudian beliau mencontohkan sebuah hadits:
« ﻳﺎ ﻋﻠﻲ ﺃﻧﺖ ﻣﻨﻲ ﺑﻤﻨﺰﻟﺔ ﻫﺎﺭﻭﻥ ﻣﻦ ﻣﻮﺳﻰ ﺇﻻ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻧﺒﻲ ﺑﻌﺪﻱ ‏»
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ
Artinya; wahai ‘Ali..! Kedudukanmu disisiku sama
dengan kedudukannya Nabi Harun pada Nabi
Musa, kecuali sesungguhnya tidak ada Nabi
setelahku”.

Hadits ini sekilas seperti wasiat khilafah, bahwa
khalifah setelah Nabi saw. wafat adalah Sayyidina
‘Ali ra. Pemahaman seperti ini menjadi keyakinan
sebagian kelompok dan terus menjadi polemik
hingga saat ini.

Padahal latar belakang dari hadits ini adalah
ketika perang tabuk, di Madinah tidak ada orang
kecuali anak² dan para wanita. Sayidina ‘Ali mau
ikut perang juga. Tapi Rosulullah saw.melarangnya agar menjaga Madinah.
Kemudian Rosulullah bersabda dg hadits diatas.
Seperti halnya Nabi Musa saat pergi ke gunung
Thurisaina’, Nabi Harun-lah yang mengganti
dibelakang. Hadits ini sama sekali tidak ada
kaitannya dengan kekhilafahan. wallaahu a’lam.

Resensi Kitab Al-Ulama' Al-Mujaddidun KH Maimun Zubair Sarang

Nama Kitab : AlUlama Al Mujaddidun
Pengarang : KH. Maimun Zubair
Penerbit:Maktabah Anwariyah
Tebal Kitab : 55 halaman

Al-Qur’an diturunkan oleh Allah sebagai pedoman bagi manusia secara universal dalam semua perbuatan, ucapan, maupun kehidupan (individu atau sosial). Sebagai pedoman yang masih global maka hal itu tidak bisa nyata tanpa adanya figur untuk menjadi qudwah (panutan) sesuai dengan intisari Al-Qur’an. Oleh sebab itu Allah mengutus nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan yang segala perbuatannya tercermin dari Al-Qur’an. Konsekuensinya, manusia diwajibkan untuk mengikuti dan menjalankan apa yang diperintah maupun yang dilarang oleh beliau.

Sebagaimana dijelaskan dalam alqur’an وما اتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهواSeiring dengan bergesernya waktu dan telah wafatnya nabi maka dibutuhkan lagi figur yang mampu menuntun manusia dalam berpegang teguh pada ajaran-ajaran Al-Qur’an. Figur tersebut tak lain adalah para ulama’ yang telah dipilih Allah untuk menggantikan posisi nabi. Ulama inilah yang nantinya akan memperbaharui agama islam sehingga islam selalu relevan dengan tathowwur al-zaman (evolusi zaman) dimana saja dan kapan saja.

Hal ini sesuai dengan hadis nabi :اإن الله يبعث لهذه الامة على رأس كل سنة من يجدد لها دينهاDari fenomena diatas maka KH. Maimoen zubair mengarang sebuahkitab yang mengulas tentang ulama-ulama pembaharu yang muncul setiap kurun satu abad. Al Ulama Al Mujaddidun merupakan refleksi kitab yang mampu membawa kita untuk lebih memahami perubahan-perubahan zaman dengan segala problem-problemnya.Didalam kitab tersebut dijelaskan bahwa hukum islam berangsur-angsur mulai hilang, terkikis oleh globalisasi.

Diantaranya adalah masalah perbudakan, jihad fi sabilillah, penegakan hukum (al-hudud) serta zakat mata uang emas dan perak. Penulis juga menjelaskan tentang wajibnya zakatmata uang kertas serta menolak pendapat orang yang tidak mewajibkannya.Setelah itu penulis secara efektif menjabarkan dan membahas tentang eksistensi islam pada saat turunnya nabi Isa AS. Dijelaskan bahwasanya nabi Isa AS diturunkanAllah untuk memerangi Dajjal yang telah menyesatkan banyak manusia.

Pada masa Dajjal inilah muncul keanehan-keanehan di dunia ini yang kesemuanya itu merupkanistidrojbaginya untuk memikat orang-orang yang tidak diberi hidayah Allah SWT.Di akhir kitab tersebut secara jenial penulis mendemonstrasikan keahliannya sekaligus juga mencarikan solusi bagi problem-problem intelektual dan sosial yang muncul dalam masyarakat, yaitu dengan berpegang teguh pada kitab-kitab ulama fiqih serta tidak fanatik pada satu aturan madzhab. Dengan demikian masyarakat tidak akan melenceng dari syari’at-syari’at islam dan terhindar dari ajaran-ajaran yang menyesatakan. Wallahu a’lam.

Sumber : http://siswauniversitasimamsyafi.blogspot.in/2013/05/resensi-kitab-ulama-al-mujaddidun-kh.html

Penghina Al-Qur’an di Zaman Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa WallamPenghina Al-Qur’an di Zaman Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam

Di zaman Rasulullah saw ada seorang munafik bernama Abi Sarah yang ditugaskan untuk menulis wahyu. Abi Sarah berbalik menjadi murtad dan kafir, kemudian mengumumkan kemurtadannya terhadap Islam dan berbalik pada kelompok orang-orang kafir Quraisy di kota Makkah.
Ketika Abi Sarah ditanya oleh para kafir musyrikin mengenai pengalamannya yang pernah diminta menuliskan wahyu, dengan bangganya Abi Sarah mengatakan, bahwa ternyata Muhammad itu begitu mudah aku “bodohi!”. Ketika dia mengimlakan kepadaku ayat [عزيز حكيم] “Aziizun Hakim” aku justru menuliskan [عليم حكيم] “Alimun Hakim” dan Muhammad mempercayainya begitu saja.
Tentu saja lelucon Abi Sarah yang bermaksud menghina al-Qur’an sekaligus mencemooh nabi Muhammad Saw disambut gelak tawa kepuasaan pembenci Islam. Mereka seakan menganggap bahwa Rasulullah gampang dibodohi dan dibohongi hanya oleh seorang bernama Abi Sarah.
Berita kebohongan yang disampaikan oleh Abi Sarah pun telah sampai ke telinga Rasulullah dan para sahabat. Apa yang terjadi kemudian? Apakah berita itu dianggap kabar angin saja? Ternyata tidak! Penghinaan dan penistaan terhadap kalamullah sekaligus Rasulullah Saw memiliki hukum tersendiri di dalam Islam.
Beberapa tahun kemudian, ketika kekuatan umat Islam telah bertambah semakin kuat dan banyak hingga menyebar ke beberapa jazirah di negara Arab, ekspansi selanjutnya adalah menaklukkan kota Makkah yang lebih dikenal dengan “Fathul Makkah”.
Ketika umat Islam telah berhasil menguasai kota Makkah, kaum kafir Quraisy menyerah tanpa syarat. Mereka tunduk atas segala ketentuan serta balasan dari permusuhan mereka terhadap kaum muslimin belasan tahun yang lalu.
Rasulullah Saw memaafkan segala bentuk kekerasan, kekejaman serta permusuhan kafir Quraisy Makkah.
*Namun, ada satu hal yang tidak terlupakan. Ingatan kaum muslimin terhadap penghinaan serta penistaan Al-Qur’an yang pernah dilakukan seorang munafik bernama Abi Sarah tidak serta merta hilang begitu saja.* Apa tindakan balasan atas penghinaan Abi Sarah terhadap Al-Qur’an?
Rasulullah saw dengan tegasnya memerintahkan pasukan elit untuk mencari Abi Sarah serta beberapa orang yang melakukan penistaan yang sama, seperti Abdullah bin Hilal bin Khatal dan Miqyas bin Shubabah. *Rasulullah saw menginstruksikan ketiga orang ini untuk dieksekusi mati walau mereka memelas minta ampun sambil bergantung di pintu Ka’bah.*
Dalam hal menyikapi para penebar fitnah penistaan agama, Islam tidak main-main. Para ulama sepakat bahwa hukuman bagi penghina Al-Qur’an, maupun penghina Rasulullah Saw adalah hukuman eksekusi mati. Bahkan banyak para ulama yang menulis khusus kitab-kitab yang berkenaan dengan sanksi hukum bagi penghina Al-Qur’an dan penghina Rasulullah Saw.
Diantara kitab yang terkenal adalah karangan Imam as-Subki [683-756 H] yang berjudul *_“As-Syaiful Maslûl ‘Alã Man Sabba ar-Rasul”_* [Pedang yang Terhunus atas Pencela Rasul] dan selanjutnya lebih dari 350 tahun berikutnya seorang ahli hadits Imam Muhammad Hasyim bin Abdul Gafûr [1104-11743 H] juga menulis sebuah kitab yang berjudul *_“As-Saiful Jali ‘Alã Man Sabba an-Nabi “_* [Pedang yang Berkilat Atas Penghina Nabi].
Di zaman Rasulullah saw ada seorang munafik bernama Abi Sarah yang ditugaskan untuk menulis wahyu. Abi Sarah berbalik menjadi murtad dan kafir, kemudian mengumumkan kemurtadannya terhadap Islam dan berbalik pada kelompok orang-orang kafir Quraisy di kota Makkah.
Ketika Abi Sarah ditanya oleh para kafir musyrikin mengenai pengalamannya yang pernah diminta menuliskan wahyu, dengan bangganya Abi Sarah mengatakan, bahwa ternyata Muhammad itu begitu mudah aku “bodohi!”. Ketika dia mengimlakan kepadaku ayat [عزيز حكيم] “Aziizun Hakim” aku justru menuliskan [عليم حكيم] “Alimun Hakim” dan Muhammad mempercayainya begitu saja.
Tentu saja lelucon Abi Sarah yang bermaksud menghina al-Qur’an sekaligus mencemooh nabi Muhammad Saw disambut gelak tawa kepuasaan pembenci Islam. Mereka seakan menganggap bahwa Rasulullah gampang dibodohi dan dibohongi hanya oleh seorang bernama Abi Sarah.
Berita kebohongan yang disampaikan oleh Abi Sarah pun telah sampai ke telinga Rasulullah dan para sahabat. Apa yang terjadi kemudian? Apakah berita itu dianggap kabar angin saja? Ternyata tidak! Penghinaan dan penistaan terhadap kalamullah sekaligus Rasulullah Saw memiliki hukum tersendiri di dalam Islam.
Beberapa tahun kemudian, ketika kekuatan umat Islam telah bertambah semakin kuat dan banyak hingga menyebar ke beberapa jazirah di negara Arab, ekspansi selanjutnya adalah menaklukkan kota Makkah yang lebih dikenal dengan “Fathul Makkah”.
Ketika umat Islam telah berhasil menguasai kota Makkah, kaum kafir Quraisy menyerah tanpa syarat. Mereka tunduk atas segala ketentuan serta balasan dari permusuhan mereka terhadap kaum muslimin belasan tahun yang lalu.
Rasulullah Saw memaafkan segala bentuk kekerasan, kekejaman serta permusuhan kafir Quraisy Makkah.
*Namun, ada satu hal yang tidak terlupakan. Ingatan kaum muslimin terhadap penghinaan serta penistaan Al-Qur’an yang pernah dilakukan seorang munafik bernama Abi Sarah tidak serta merta hilang begitu saja.* Apa tindakan balasan atas penghinaan Abi Sarah terhadap Al-Qur’an?
Rasulullah saw dengan tegasnya memerintahkan pasukan elit untuk mencari Abi Sarah serta beberapa orang yang melakukan penistaan yang sama, seperti Abdullah bin Hilal bin Khatal dan Miqyas bin Shubabah. *Rasulullah saw menginstruksikan ketiga orang ini untuk dieksekusi mati walau mereka memelas minta ampun sambil bergantung di pintu Ka’bah.*
Dalam hal menyikapi para penebar fitnah penistaan agama, Islam tidak main-main. Para ulama sepakat bahwa hukuman bagi penghina Al-Qur’an, maupun penghina Rasulullah Saw adalah hukuman eksekusi mati. Bahkan banyak para ulama yang menulis khusus kitab-kitab yang berkenaan dengan sanksi hukum bagi penghina Al-Qur’an dan penghina Rasulullah Saw.
Diantara kitab yang terkenal adalah karangan Imam as-Subki [683-756 H] yang berjudul *_“As-Syaiful Maslûl ‘Alã Man Sabba ar-Rasul”_* [Pedang yang Terhunus atas Pencela Rasul] dan selanjutnya lebih dari 350 tahun berikutnya seorang ahli hadits Imam Muhammad Hasyim bin Abdul Gafûr [1104-11743 H] juga menulis sebuah kitab yang berjudul *_“As-Saiful Ja
li ‘Alã Man Sabba an-Nabi “_* [Pedang yang Berkilat Atas Penghina Nabi].
https://ozydiq.wordpress.com/2016/11/09/%E2%80%8Bpenghina-al-quran-di-zaman-rasulullah-shallallaahu-alaihi-wa-wallam/https://ozydiq.wordpress.com/2016/11/09/%E2%80%8Bpenghina-al-quran-di-zaman-rasulullah-shallallaahu-alaihi-wa-wallam/

Agar Uang Gaji Menjadi Berkah

Seorang laki-laki datang kepada Imam al-Syafi’i radhiyallaahu ‘anhu, mengeluhkan kondisi ekonominya yang begitu sempit. Ia juga menceritakan, bahwa ia bekerja sebagai buruh dengan upah 5 Dirham, tetapi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Lalu Imam al-Syafi’i menasehatinya, agar ia mendatangi majikannya dan memintanya untuk menurunkan gajinya menjadi 4 Dirham. Laki-laki itu pun mengikuti saran Imam al-Syafi’i, meskipun ia tidak mengerti apa maksud saran tersebut.

Selang beberapa waktu, laki-laki itu datang lagi, juga mengeluhkan kondisi ekonominya yang masih susah. Lalu Imam al-Syafi’i memberinya saran agar mendatangi majikannya dan memintanya untuk mengurangi upah kerjanya menjadi 3 Dirham, sebagai ganti dari 4 Dirham. Laki-laki itupun pergi melakukan saran Imam al-Syafi’i dengan keheranan karena tidak mengerti maksud saran tersebut.

Setelah beberapa waktu, laki-laki itu datang lagi kepada al-Syafi’i dan mengucapkan terima kasih atas nasehat dan saran yang dulu diberikan kepadanya. Ia mengabarkan, ternyata 3 Dirham dapat memenuhi semua kebutuhannya dan bahkan setelah itu hartanya menjadi melimpah. Kemudian laki-laki itu bertanya tentang maksud saran dan nasehat al-Syafi’i yang selama ini diberikan.

Lalu al-Syafi’i menjelaskan, bahwa beliau melihat kerja laki-laki itu kepada majikannya hanya layak diupah 3 Dirham. Sedangkan selebihnya yang 2 Dirham telah mencabut keberkahan upah yang diterimanya ketika bercampur dengan 3 Dirham tersebut. Lalu al-Syafi’i bersyair:
جُمِعَ الْحَرَامُ عَلىَ الْحَلاَلِ لِيُكْثِرَهْ ## دَخَلَ الْحَرَامُ عَلىَ الْحَلاَلِ فَبَعْثَرَهْ
Harta yang haram dikumpulkan pada yang halal agar menjadi banyak
Ternyata masuknya harta haram pada yang halal, justru menghancurkannya

Kisah di atas sangat inspiratif bagi kita. Harta melimpah yang kita peroleh, kalau tidak sesuai dengan jasa dan pelayanan yang kita berikan, justru tidak berkah dan merusak kehidupan kita. Harta sedikit yang kita peroleh, apabila sesuai dengan jasa yang seharusnya kita terima, justru berkah dan menjadikan harta seseorang melimpah. Semoga kita mendapatkan harta yang berkah dan melimpah, amin.

Sumber : FP Muhammad Idrus Ramli

Kelahiran Ahlussunnah

Abu Hasan Al-Asy’ari, tokoh yang berjasa mempopulerkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, adalah seorang mantan Imam Agung aliran mu’tazilah. Hujjah-hujjahnya adalah oase bagi jamaah mu’tazilah yang setiap subuhnya berjumlah ribuan itu. Suatu hari di bulan Ramadlan, Rasulullah mendatangi beliau dalam mimpi. “Tolonglah ajaranku,” perintah Rasulullah kepada Ali bin Ismail, nama asli beliau. Lantas, beliau memberhentikan pengajian selama dua hari. Waktu itu beliau pergunakan untuk mendalami kajian tafsir dan hadis.

Di kesempatan selanjutnya, Rasulullah kembali hadir dalam mimpinya dengan perintah yang sama. Kemudian beliau jawab, “Bukankah sudah kulakukan ya Rasul?” Rasulullah tetap meminta Abu Hasan untuk menolong ajaran Rasul. Setelah beliau cerna dalam-dalam, terbukalah hati beliau, bahwa yang dimaksud Rasulullah adalah meluruskan akidah umat yang terlanjur dibelokkan oleh paham mu’tazilah. Sejak saat itu Abu Hasan memproklamirkan diri keluar dari mu’tazilah dan merumuskan akidah sesuai permintaan Rasulullah.

Sejak saat itu pula, paham mu’tazilah meredup dengan segera. Padahal, di masa sebelumnya, akidah mu’tazilah sangat sulit untuk ditaklukkan. Karena para ulama sebelumnya berdebat dengan mu’tazilah hanya menggunakan dalil naqli. Sementara mu’tazilah memilih untuk taqdimul aqli, mendahulukan akal daripada nash. Ketika keduanya berseberangan, mutlak kebenaran adalah milik akal.

Dalam membantah mu’tazilah, Imam Abu Hasan memiliki pendekatan lain. Beliau dengan cerdas menggabungkan antara naqli dan aqli. Mu’tazilah yang senang menterjemahkan filsafat Barat (Yunani) pun kelimpungan. Bagaimana tidak, Abu Hasan belajar akidah mu’tazilah selama tiga puluh tahun. Dan di masa masih menjadi pemimpin mu’tazilah, tidak ada seorangpun dari golongannya mampu menandingi rasio dan kelugasan beliau. Inilah yang membuat akidah asy’ariah seakan berkuasa dan mu’tazilah tumbang.
Dari kesuksesan yang dialami Imam Asy’ari inilah, kerancuan hukum mempelajari filsafat terjawab. Bahwa filsafat bukan sesuatu yang haram. Bahkan, Imam Ghazali dalam salah satu risalahnya menyebut bahwa belajar filsafat bertaraf fardhu kifayah. Bagaimana bisa kita melawan para rasionalis dan liberalis, jika kita tidak memahami pola pikir mereka? Tentu kita akan dihajar habis-habisan, seperti ahlussunnah pra-Asy’ari.

Tentunya, filsafat yang bisa kita tempuh tidak sampai ke ranah bebas tanpa aturan. Tidak sampai ‘membebaskan ruang dari Tuhan’ seperti yang dialami oleh lembaga pendidikan atau kampus di berbagai daerah. Kita sudah mempunyai kaidah agama yang menjadi rule untuk kita taati.
Sebenarnya, sebelum dipopulerkan oleh Imam Asy’ari, ajaran ahlussunnah sudah berupa benih di tangan Sayyidina Abdullah bin Abbas. Ahlussunnah merupakan reaksi dari ketidakmampuan Islam bertahan dari perpecahan sejak ditinggal sang pembawanya, Rasulullah SAW.

Perpecahan di dalam tubuh Islam sudah dimulai bahkan sebelum jenazah Rasulullah dikebumikan. Kita tentu ingat peristiwa pembai’atan Abu Bakar sebagai Khalifah, yang didahului perdebatan kecil antara Muhajirin dan Anshar. Di saat itu, watak asli kaum Arab mencuat. Mereka sebelum Rasulullah datang sebagai juru damai, adalah kaum yang sangat loyal pada kelompoknya. Bani Hasyim, Khazraj, Aus, sering berseteru dengan kelompok bani lain. Ini membuktikan bahwa Rasulullah adalah juru damai paling tangguh.
Memang, perseteruan kecil yang terjadi di saat berkabung itu dapat diredam oleh Sayyidina Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Namun lubang perpecahan menganga jua ketika muncul gerakan emoh zakat dari beberapa orang. Ini terjadi hanya beberapa waktu dari resminya Abu Bakar menjadi Khalifah. Mereka menganggap, kewajiban zakat sudah gugur ketika Rasulullah wafat, karena sudah tidak ada lagi doa dari Rasulullah untuk mereka yang berzakat. Peristiwa ini ditengarai sebagai perpecahan pertama yang sudah diprediksi oleh Rasulullah di dalam hadisnya yang masyhur, tentang terpecahnya umat Islam menjadi puluhan golongan itu.

Perpecahan akhirnya benar-benar tumpah ketika sayyidina Ali bin Abi Thalib menjadi Khalifah. Muncullah golongan Rawafidl (pendukung Ali) dan Khawarij (penolak kebijakan Ali). Jelas, perpecahan ini bukan akibat dari perbedaan akidah, melainkan politik yang memaksa mereka bertingkah. Lantas, demi mengukuhkan posisi mereka, masing-masing dari dua kubu merumuskan akidah sendiri, sehingga mereka yang tidak sesuai dengan rumusan yang telah diputuskan dianggap kafir. Di masa inilah menyemai hadis-hadis maudlu’. Mereka menggunakan nama Rasul untuk menguatkan tindakan-tindakan mereka.
Memandang suasana semakin keruh, Abdullah bin Abbas, sahabat yang sangat cerdas, menarik diri dari pertikaian ini, dan merumuskan akidah yang benar. Beliau lah orang pertama yang mencetuskan istilah Ahlussunnah wal jamaah (aswaja). Hal ini berdasarkan pada ucapan beliau saat mentafsirkan ayat:

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ
 Beliau berkata: “Yakni pada hari kiamat, ketika bersinar wajah para pengikut ahlussunnah wal jama’ah dan menghitam wajah pengikut bid’ah.”

Istilah ahlussunnah beliau gunakan demi membedakan diri dengan kaum Rawafidl dan Khawarij. Memang, ada hadis yang didatangkan oleh beberapa pihak berbunyi, “Siapakah mereka ya Rasulullah (satu golongan yang selamat itu)?” “Mereka adalah ahlussunnah wal jamaah”. Namun oleh mayoritas ulama, hadis ini patut dikoreksi kembali.

Abdullah bin Abbas menegaskan, aswaja tidak terpengaruh apapun, selain yang datang dari Rasulullah. Berbeda dengan Rawafidl maupun Khawarij yang mengkafirkan sahabat yang tidak sepaham dengan mereka, beliau menganggap semua yang datang dari sahabat dapat diterima kebenarannya.
Kenapa? Karena hanya sahabat lah golongan yang memahami ajaran Rasul. Memang, seringkali ditemukan pendapat yang terlihat silang sengkarut antar sahabat. Namun, aswaja menyikapinya dengan bijak. Logikanya sederhana. Kita misalkan satu kampung rombongan ziarah Walisongo. Di antara mereka ada ustadz dan anak muda. Setelah ke makam, ziarah dilanjutkan ke Monas. Kalau kita tanya ke ustad, tentu dia menjawab ‘Makamnya ramai sekali.’ ‘Kalau monasnya gimana?’ ‘Alah, monas ya gitu-gitu aja. Cuma tugu yang ada emasnya’. Sementara anak muda akan menjawab ‘Makamnya ya tetap gitu aja.’ ‘Kalau monasnya?’ ‘Wah, di sana ramai.’

Perbedaan latar belakang tentu berakibat pada perbedaan tingkat kepahaman dan penafsiran. Meskipun sumbernya sama persis. Dan kita, aswaja, tidak bisa menghakimi siapakah yang benar, karena kita tidak ikut dalam perjalanan ziarah sebagaimana pemisalan di atas.

Apa yang menjadi dasar keyakinan aswaja adalah “Kullu shohabiy udulun.” Setiap sahabat itu adil. Semua pendapat sahabat benar. Tidak ada yang bisa dibatalkan. Namun, kita punya wewenang untuk memilih, pendapat mana yang akan kita gunakan. Ini sangat berbeda dengan Rawafidl maupun Khawarij.
Dan juga, bagaimana mungkin kita menafikan kabar dari sahabat, jika mereka adalah perekam terbaik ajaran Rasulullah. Mereka mengikuti setiap perkataan, perbuatan dan taqrir (ketetapan) yang dikeluarkan Rasulullah. Kita tidak bisa melaksanakan salat, kecuali dengan melihat ‘rekaman’ yang disimpan oleh para
sahabat.

Kita patut bersyukur. Ajaran aswaja dapat lahir dan sedemikian rupa mengalir memenuhi sungai-sungai akidah Nusantara sejak lampau. Karena jika tidak, mungkin saja kitalah aktor utama penyebar terorisme atas nama agama. Atau mungkin juga kita tergiur akan ujaran, “kembali ke ajaran Rasulullah” dan mengunyahnya mentah-mentah. Alhamdulillah.][

#Disarikan dari Seminar Aswaja Sebagai Penyeimbang Agama dan Budaya oleh KH. Muhibul Aman Ali (Pasuruan) di Lirboyo, 05 Nopember 2015.
https://lirboyo.net/kelahiran-ahlussunnah/

Sholawat Nariyah Dan Keampuhannya

Mulanya, ia bernama Sholawat Tafrijiyah. Namun, nampaknya sejarawan mempunyai data yang berlainan. Karena di teks yang berbeda, ditemukan bahwa sholawat ini dahulu bernama Taziyah, yang bermula dari penisbatan muasal teks sholawat ini kepada syaikh Ibrahim at-Taziy. Namun pada perkembangannya, ia lebih dikenal dengan “Nariyah”. Mengapa? Di titik ini, perselisihan para sejarawan kembali mengemuka. Di satu kisah, Taziyah bertransformasi menjadi Nariyah hanya sebatas tahrif, memutar kata dengan perubahan pada ‘titik’nya. Di kisah lain, Nariyah muncul sebagai sesuatu yang lebih historis. segolongan Islam di Maroko, ketika ingin mendapatkan yang dikehendaki sekaligus menghindari yang dibenci, mereka segera berkumpul dalam satu majelis. Di dalamnya, mereka membaca shalawat ini sebanyak 4.444 kali. Dus, yang diharapkan akan terwujud segera, bagai api (an-nâr) ketika membakar. Dari kata an-nâinilah nama Nariyah bermula.
Bacaan Sholawat Nariyah yang didapat oleh Sayyid Muhammad Haqqy an-Nazily dari beberapa gurunya sebagai berikut:

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِـــــــيْمِ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَ سَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِى تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَ تَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَ تُقْضٰى بِهِ الْحَوَائِجُ وَ تُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَ حُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَ يُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَ عَلىٰ آلِهِ وِ صَحْبِهِ

Ketika kemudian syaikh an-Nazily menerima ijazah sholawat serupa dari Sayyid Muhammad as-Sanusi di gunung Abi Qubais, ada beberapa kalimat yang ditambahkan di akhir sholawat:

 فِى كُلِّ لَمْحَةٍ وَ نَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

Sholawat yang telah ditambah inilah yang sampai turun temurun kepada kita.
Mengenai lafadz مُحَمَّدٍ, sebagian ulama menengara bahwa ada yang lebih indah pengungkapannya, yakni dengan menambah lafadz النبى setelah مُحَمَّدٍ.
Adapun terhadap faedah sholawat Nariyah, ulama memberi beberapa rumusan yang erat kaitannya dengan seberapa banyak sholawat itu diulang. Diantaranya:

  1. Ketika dibaca setiap hari sebelas kali, rizki akan turun dari langit dan tumbuh dari bumi. (Syaikh Muhammad at-Tanusi)
  2. Ketika dibaca setiap selepas shalat sebelas kali, rizki tidak akan terputus dan memperoleh derajat yang tinggi. (Imam Ad-Dainuri)
  3. Ketika dibaca setelah salat subuh 41 kali, apa yang diinginkan akan terwujud.
  4. Ketika dibaca sehari seratus kali, akan terwujud harapan, bahkan lebih dari yang diangankan.
  5. Ketika dibaca sehari 313 kali dengan niat membuka tabir rahasia, ia akan melihat segala hal yang menjadi harapan-harapannya.
  6. Ketika dibaca setiap hari 1.000 kali, maka baginya perkara yang tak bisa dibayangkan oleh siapapun (mâ lâ ain ra’at wa lâ udzun sami’at wa lâ khathr fi qalb basyar/yang tak terindera mata, tak terdengar telinga, dan tak terbesit di hati manusia).

Di lain kesempatan, Al-Qurthubi, sebagaimana yang juga ditegaskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani, memberikan satu bilangan khusus untuk membaca sholawat ini, yakni 4.444. Ketika dibaca sebanyak bilangan itu dan disertai dengan tawasul kepada Nabi saw., maka segala harapan, bahkan yang besar pun akan terwujud. Juga, seluruh cobaan (bala’) akan dihindarkan. Wallahu a’lam.][

Sumber : lirboyo.net