Arsip Kategori: Kajian

PHBI – Menyatukan Dan Mengarahkan Karakter Pemimpin Yang Berbeda, Oleh RKH. Abdul Adzim S.Fil.M.H

Jum’at 02 Muharrom 1439 H, terselenggara acara PHBI (Peringatan Hari Besar Islam) oleh Pengurus IAST yang dibantu oleh Korda Klerker Panaguan Pamekasan. Pengurus menghadirkan  RKH. Abdul Adzim S.Fil.M.H, Pamekasan dalam kegiatan tersebut sebagai penceramah. Ulama kharismatik asal Madura tersebut mengawali ceramahnya dengan menceritakan kembali sejarah pembentukan kalender Hijriyah, yang mana pembentukan kalender ini bermula ketika Sayyidana Umar menjabat sebagai Khalifah. Beliau juga menjelaskan bahwa kendatipun tahun hijriyah dimulai pada bulan Muharrom, bukan berarti Rasulullah hijrah pada bulan tersebut, karena Rasulullah hijrah di bulan Maulid. Tidak hanya itu, beliau menjelaskan tentang karakter para pemimpin sebuah organisasi yang berbeda-beda. Menurut Ulama’ muda ini, dalam sebuah organisasi, Staf maupun Anggota, punya karakter yang berbeda. Oleh karna itu kita tidak bisa merubah karakter tersebut,  tapi kita harus mengarahkannya ke arah yang bermanfaat kepada perjuangan, sebagaiman strategi Rasullullah, tanpa pandang bulu. Lebih lanjut beliau memberi contoh dengan empat sahabat terbaik Rasulullah : 1 Abu Bakar Shiddiq RA, penyabar 2 Umar Bin Khottob RA, berkarakter Keras 3 Utsman Bin Affan RA, Jutawan dan ermawan 4 Ali Bin Abi Tholib KW, karakternya lehi (cak pleca’an : kata orang Madura) Ada dua poin dalam keorganisasian : 1. Konsisten 2. Konsekuensi Semoga apa yang disampaikan bermanfaat bagi kita semua, hususnya IAST, amin. Penulis : Khoirunnas
  • Kontributor : Ach. Maushul

Sejarah Tahun dan Bulan Kalender Hijriyyah

Kalender Hijriyah atau Kalender Islam (bahasa Arab: التقويم الهجري; at-taqwim al-hijri), adalah kalender yang digunakan oleh umat Islam, termasuk dalam menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah, atau hari-hari penting lainnya. Kalender ini dinamakan Kalender Hijriyah, karena pada tahun pertama kalender ini adalah tahun dimana terjadi peristiwa Hijrah-nya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 M. Di beberapa negara yang berpenduduk mayoritas Islam, Kalender Hijriyah juga digunakan sebagai sistem penanggalan sehari-hari. Kalender Islam menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya, berbeda dengan kalender biasa (kalender Masehi) yang menggunakan peredaran Matahari. =&0=& Penentuan dimulainya sebuah hari dan tanggal pada Kalender Hijriyah berbeda dengan Kalender Masehi. Pada sistem Kalender Masehi, sebuah hari dan tanggal dimulai pada pukul 00.00 dini hari waktu setempat. Namun pada sistem Kalender Hijriah, sebuah hari dan tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari di tempat tersebut. Kalender Hijriyah dibangun berdasarkan rata-rata silkus sinodik bulan kalender lunar (qomariyah), memiliki 12 bulan dalam setahun. Dengan menggunakan siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya adalah (12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari).Hal inilah yang menjelaskan 1 tahun Kalender Hijriah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan 1 tahun Kalender Masehi. Faktanya, siklus sinodik bulan bervariasi. Jumlah hari dalam satu bulan dalam Kalender Hijriah bergantung pada posisi bulan, bumi dan matahari. Usia bulan yang mencapai 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan baru (new moon) di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi, dan pada saat yang bersamaan, bumi berada pada jarak terdekatnya dengan matahari (perihelion). Sementara itu, satu bulan yang berlangsung 29 hari bertepatan dengan saat terjadinya bulan baru di perige (jarak terdekat bulan dengan bumi) dengan bumi berada di titik terjauhnya dari Matahari (aphelion). Dari sini terlihat bahwa usia bulan tidak tetap melainkan berubah-ubah (29 – 30 hari) sesuai dengan kedudukan ketiga benda langit tersebut (Bulan, Bumi dan Matahari). Penentuan awal bulan (new moon) ditandai dengan munculnya penampakan (visibilitas) Bulan Sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atau ijtimak). Pada fase ini, Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari, sehingga posisi hilal berada di ufuk barat. Jika hilal tidak dapat terlihat pada hari ke-29, maka jumlah hari pada bulan tersebut dibulatkan menjadi 30 hari. Tidak ada aturan khusus bulan-bulan mana saja yang memiliki 29 hari, dan mana yang memiliki 30 hari. Semuanya tergantung pada penampakan hilal. Penetapan kalender Hijriyah dilakukan pada zaman Khalifah Umar bin Khatab, yang menetapkan peristiwa hijrahnya Rasulullah saw dari Mekah ke Madinah. Kalender Hijriyah juga terdiri dari 12 bulan, dengan jumlah hari berkisar 29-30 hari. Penetapan 12 bulan ini sesuai dengan firman Allah Subhana Wata’ala: “ Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. ” – At Taubah(9):36 – Sebelumnya, orang Arab pra-kerasulan Rasulullah Muhammad SAW telah menggunakan bulan-bulan dalam kalender hijriyah ini. Hanya saja mereka tidak menetapkan ini tahun berapa, tetapi tahun apa. Misalnya saja kita mengetahui bahwa kelahiran Rasulullah SAW adalah pada tahun gajah.Abu Musa Al-Asyári sebagai salah satu gubernur pada zaman Khalifah Umar r.a. menulis surat kepada Amirul Mukminin yang isinya menanyakan surat-surat dari khalifah yang tidak ada tahunnya, hanya tanggal dan bulan saja, sehingga membingungkan. Khalifah Umar lalu mengumpulkan beberapa sahabat senior waktu itu. Mereka adalah Utsman bin Affan r.a., Ali bin Abi Thalib r.a., Abdurrahman bin Auf r.a., Sa’ad bin Abi Waqqas r.a., Zubair bin Awwam r.a., dan Thalhan bin Ubaidillah r.a. Mereka bermusyawarah mengenai kalender Islam. Ada yang mengusulkan berdasarkan milad Rasulullah saw. Ada juga yang mengusulkan berdasarkan pengangkatan Muhammad saw menjadi Rasul. Dan yang diterima adalah usul dari Ali bin Abi Thalib r.a. yaitu berdasarkan momentum hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Yatstrib (Madinah). Maka semuanya setuju dengan usulan Ali r.a. dan ditetapkan bahwa tahun pertama dalam kalender Islam adalah pada masa hijrahnya Rasulullah saw. Sedangkan nama-nama bulan dalam kalender hijriyah ini diambil dari nama-nama bulan yang telah ada dan berlaku pada masa itu di wilayah Arab.

Sumber  : Wikipedia dan www.santri.net

Memang kalender hijriyah dimulai sejak nabi hijrah. Dan saat nabi lahir sudah ada nama bulan dan robiul awal tapi tahunnya masih belum dijadikan pedoman. Dalam Bab keseratus lima belas kitab Bustanul ‘arifin dalam menerangkan hari-hari dan bulan-bulan. Berkata al-Faqih ra. : ketahuilah bahwasannya setahun itu ada 12 bulan : 1.Bulan yang pertamama adalah bulana ”Muharram” dan sesungguhnya bulan itu dinamai Muharram, karena peperangan di bulan tersebut di haramkan dalam hal apapun di era jahiliyah. 2.kemudian ”Shofar” dan sesungguhnya mereka menamai bulan tersebut dengan shofar, karena orang-orang ditimpa oleh satu penyakit, lalu memucat wajah-wajah mereka maka mereka menamai bulan itu dengan shofar, karena pucatnya wajah-wajah di bulan itu. 3.dikatakan oleh satu pendapat, dinamai shofar, karena sesungguhnya iblis shofaro (bersiul) memanggil bala tentaranya ketika keluar bulan muharram, dan telah dihalalkan perang bagi orang-orang. 4.kemudian bulan ”rabiul awwal” karena sesungguhnya bulan itu bertepatan dengan permulaan musim semi (bertunas) maka dinamai dengan Rabiul awwal (musim semi pertama) 5.kemudian bulan ”Rabiul akhir” karena bulan itu bertepatan dengan akhir musim semi (bertunas) maka dinamai dengan Rabiul akhir/ rabiuts tsani (musim semi kedua) 6.kemudian ”jumadil ula” kemudian ”jumadil ukhra” dinamai keduanya dengan jumad (beku) karena dua bulan itu bertepatan dengan musim dingin, ketika sangat dingin dan air membeku. 7.kemudian “Rajab” mereka menamai bulan itu denga rajab, karena bangsa Arab biasa menghormati bulan itu, yakni mengagungkannya, dan mereka menami dengan Ashomm (tuli) karena mereka tidak mendengar suara peperangan di bulan itu. 8.kemudian ”Sya’ban” dinamakan sya’ban karena berbagai suku bangsa arab mengadakan pengelompokan di bulan tersebut, agar mereka bisa terbagi-bagi menjadi beberapa kelompok di bulan tersebut. pendapat lain mengatakan: dinamakan sya’ban karena pada bulan tersebut dibagi-bagikan kebaikan yang berlimpah untuk menghadapi Ramadhan. 9.kemudian ”Ramadhan” mereka menamainya dengan ramadhan karena bertepatan dengan musim panas. dan Ramdan adalah panas yang sangat (menyengat). dan pendapat lain mengatakan: dinamakan Ramadhan, karena akan dihanguskan berbagai dosa pada bulan tersebut. 10. kemudian ”syawwal” mereka menamainya dengan syawwal, karena suku-suku bangsa arab, mengadakan perjalanan berpencar di bulan tersebut, yakni menyingkir dari tempat tinggalnya. pendapat lain mengatakan : mereka menamainya dengan syawwal, karena mereka mengadakan perburuan di bulan tersebut. diambil dari ucapanmu” asylaitul kalba idza arsaltuhu li-shoidin ( aku mengusir anjing, apabila aku mengirim anjing itu untuk berburu) 11.kemudian” dzulqa’dah” mereka menamainya dengan dulqa’dah karena mereka itus selalu duduk-duduk (nyantai) di bulan tersebut, jauh dari peperangan. 12. kemudian ”Dzulhijjah” karena mereka melakukan hajji pada bulan ini. Maka ini adalah berbagai nama-nama bulan Arab, denagan standar bulan-bulan qamariyah, yang dapat diketahui perhitungannyadengan melalui peredaran bulan, dan bulan qamariyyah adalah perhitungan kaum muslim untuk kepentingan mereka dan berbagai ibadah mereka. Nama-nama bulan itu sudah ada sejak jaman Arab Jahiliyah, meski penetapan tahunnya tidak konsisten, alias ganti-ganti terus, Misalnya, mereka pernah menggunakan hitungan tahun berdasarkan kematian Amr bin Luhay (seorang tokoh Bani Khuza’ah pembawa agama musyrik di Mekkah), pernah juga mereka menggunakan patokan tahun berdasarkan kematian Hisyam bin Mughiroh, dan yang terahir mendasarkan perhitungan berdasarkan tahun peristiwa invasi pasukan Abrahah ke Mekkah. Lihat Durusut Tarikh. [Nur Hasyim S. Anam, Mumu Bsa, Raden Mas NegeriAntahberantah]. – Bustanul ‘arifin : ‎(الباب الخامس عشر بعد المائة في ذكر الأيام والشهور)(قال الفقيه) رحمه اللَّه: اعلم أن السنة اثنا عشر شهراً أولها محرم وإنما سمي محرماً لأن القتال فيه كان محرماً فيما بينهم في الجاهلية. ثم صفر وإنما سموه صفراً لأن الناس قد أصابهم المرض فاصفرت وجوههم فسموه صفراً لصفرة الوجوه فيه، ويقال سمي صفراً لأن إبليس صفر بجنوده حين خرج محرم وحلّ لهم القتال. ثم شهر ربيع الأول لأنه صادف أول الخريف فسمي الربيع الأول. ثم شهر ربيع الآخر لأنه صادف الخريف فسموه باسم الربيع. ثم جمادى الأولى، ثم جمادى الأخرى. وإنما سميا بذلك لأنهما صادفا أيام الشتاء حين اشتد البرد وجمد الماء، ثم رجب وإنما سموه رجباً لأن العرب كانت ترجبه: أي تعظمه، وكانوا يسمونه أصم لأنهم كانوا لا يسمعون فيه صوت الحرب، ثم شعبان وإنما سمي شعبان لأن قبائل العرب كانت تتشعب فيه أي تتفرق فيه، ويقال إنما سمي شعبان لأن يتشعب فيه خير كثير لرمضان. ثم شهر رمضان ويقال إنما سموه رمضان لأنه صادف أيام الحر والرمضاء الحر الشديد ويقال إنما سمي رمضان لأنه ترمض فيه الذنوب. ثم شوال إنما سموه شوال لأن القبائل العرب كانت تشول فيه: أي تبرح عنموضعها، ويقال إنما سموه شوال لأنهم كانوا يصيدون فيه من قولك أشليت الكلب إذا أرسلته لصيد. ثم ذو القعدة وإنما سموه ذا القعدة لأنهم كانوا يعقدون فيه عن الحرب. ثم ذو الحجة لأنهم كانوا يحجون فيه. فهذه أسامي الشهور العربية بالشهور القمرية التي يعرف حسابها بدوران القمر، وهو حساب المسلمين لآجالهم وعباداتهم http://www.piss-ktb.com/2012/07/1698-penetapan-tahun-hijriyah.html

Penghina Al-Qur’an di Zaman Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa WallamPenghina Al-Qur’an di Zaman Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam

Di zaman Rasulullah saw ada seorang munafik bernama Abi Sarah yang ditugaskan untuk menulis wahyu. Abi Sarah berbalik menjadi murtad dan kafir, kemudian mengumumkan kemurtadannya terhadap Islam dan berbalik pada kelompok orang-orang kafir Quraisy di kota Makkah. Ketika Abi Sarah ditanya oleh para kafir musyrikin mengenai pengalamannya yang pernah diminta menuliskan wahyu, dengan bangganya Abi Sarah mengatakan, bahwa ternyata Muhammad itu begitu mudah aku “bodohi!”. Ketika dia mengimlakan kepadaku ayat [عزيز حكيم] “Aziizun Hakim” aku justru menuliskan [عليم حكيم] “Alimun Hakim” dan Muhammad mempercayainya begitu saja. Tentu saja lelucon Abi Sarah yang bermaksud menghina al-Qur’an sekaligus mencemooh nabi Muhammad Saw disambut gelak tawa kepuasaan pembenci Islam. Mereka seakan menganggap bahwa Rasulullah gampang dibodohi dan dibohongi hanya oleh seorang bernama Abi Sarah. Berita kebohongan yang disampaikan oleh Abi Sarah pun telah sampai ke telinga Rasulullah dan para sahabat. Apa yang terjadi kemudian? Apakah berita itu dianggap kabar angin saja? Ternyata tidak! Penghinaan dan penistaan terhadap kalamullah sekaligus Rasulullah Saw memiliki hukum tersendiri di dalam Islam. Beberapa tahun kemudian, ketika kekuatan umat Islam telah bertambah semakin kuat dan banyak hingga menyebar ke beberapa jazirah di negara Arab, ekspansi selanjutnya adalah menaklukkan kota Makkah yang lebih dikenal dengan “Fathul Makkah”. Ketika umat Islam telah berhasil menguasai kota Makkah, kaum kafir Quraisy menyerah tanpa syarat. Mereka tunduk atas segala ketentuan serta balasan dari permusuhan mereka terhadap kaum muslimin belasan tahun yang lalu. Rasulullah Saw memaafkan segala bentuk kekerasan, kekejaman serta permusuhan kafir Quraisy Makkah. *Namun, ada satu hal yang tidak terlupakan. Ingatan kaum muslimin terhadap penghinaan serta penistaan Al-Qur’an yang pernah dilakukan seorang munafik bernama Abi Sarah tidak serta merta hilang begitu saja.* Apa tindakan balasan atas penghinaan Abi Sarah terhadap Al-Qur’an? Rasulullah saw dengan tegasnya memerintahkan pasukan elit untuk mencari Abi Sarah serta beberapa orang yang melakukan penistaan yang sama, seperti Abdullah bin Hilal bin Khatal dan Miqyas bin Shubabah. *Rasulullah saw menginstruksikan ketiga orang ini untuk dieksekusi mati walau mereka memelas minta ampun sambil bergantung di pintu Ka’bah.* Dalam hal menyikapi para penebar fitnah penistaan agama, Islam tidak main-main. Para ulama sepakat bahwa hukuman bagi penghina Al-Qur’an, maupun penghina Rasulullah Saw adalah hukuman eksekusi mati. Bahkan banyak para ulama yang menulis khusus kitab-kitab yang berkenaan dengan sanksi hukum bagi penghina Al-Qur’an dan penghina Rasulullah Saw. Diantara kitab yang terkenal adalah karangan Imam as-Subki [683-756 H] yang berjudul *_“As-Syaiful Maslûl ‘Alã Man Sabba ar-Rasul”_* [Pedang yang Terhunus atas Pencela Rasul] dan selanjutnya lebih dari 350 tahun berikutnya seorang ahli hadits Imam Muhammad Hasyim bin Abdul Gafûr [1104-11743 H] juga menulis sebuah kitab yang berjudul *_“As-Saiful Jali ‘Alã Man Sabba an-Nabi “_* [Pedang yang Berkilat Atas Penghina Nabi]. Di zaman Rasulullah saw ada seorang munafik bernama Abi Sarah yang ditugaskan untuk menulis wahyu. Abi Sarah berbalik menjadi murtad dan kafir, kemudian mengumumkan kemurtadannya terhadap Islam dan berbalik pada kelompok orang-orang kafir Quraisy di kota Makkah. Ketika Abi Sarah ditanya oleh para kafir musyrikin mengenai pengalamannya yang pernah diminta menuliskan wahyu, dengan bangganya Abi Sarah mengatakan, bahwa ternyata Muhammad itu begitu mudah aku “bodohi!”. Ketika dia mengimlakan kepadaku ayat [عزيز حكيم] “Aziizun Hakim” aku justru menuliskan [عليم حكيم] “Alimun Hakim” dan Muhammad mempercayainya begitu saja. Tentu saja lelucon Abi Sarah yang bermaksud menghina al-Qur’an sekaligus mencemooh nabi Muhammad Saw disambut gelak tawa kepuasaan pembenci Islam. Mereka seakan menganggap bahwa Rasulullah gampang dibodohi dan dibohongi hanya oleh seorang bernama Abi Sarah. Berita kebohongan yang disampaikan oleh Abi Sarah pun telah sampai ke telinga Rasulullah dan para sahabat. Apa yang terjadi kemudian? Apakah berita itu dianggap kabar angin saja? Ternyata tidak! Penghinaan dan penistaan terhadap kalamullah sekaligus Rasulullah Saw memiliki hukum tersendiri di dalam Islam. Beberapa tahun kemudian, ketika kekuatan umat Islam telah bertambah semakin kuat dan banyak hingga menyebar ke beberapa jazirah di negara Arab, ekspansi selanjutnya adalah menaklukkan kota Makkah yang lebih dikenal dengan “Fathul Makkah”. Ketika umat Islam telah berhasil menguasai kota Makkah, kaum kafir Quraisy menyerah tanpa syarat. Mereka tunduk atas segala ketentuan serta balasan dari permusuhan mereka terhadap kaum muslimin belasan tahun yang lalu. Rasulullah Saw memaafkan segala bentuk kekerasan, kekejaman serta permusuhan kafir Quraisy Makkah. *Namun, ada satu hal yang tidak terlupakan. Ingatan kaum muslimin terhadap penghinaan serta penistaan Al-Qur’an yang pernah dilakukan seorang munafik bernama Abi Sarah tidak serta merta hilang begitu saja.* Apa tindakan balasan atas penghinaan Abi Sarah terhadap Al-Qur’an? Rasulullah saw dengan tegasnya memerintahkan pasukan elit untuk mencari Abi Sarah serta beberapa orang yang melakukan penistaan yang sama, seperti Abdullah bin Hilal bin Khatal dan Miqyas bin Shubabah. *Rasulullah saw menginstruksikan ketiga orang ini untuk dieksekusi mati walau mereka memelas minta ampun sambil bergantung di pintu Ka’bah.* Dalam hal menyikapi para penebar fitnah penistaan agama, Islam tidak main-main. Para ulama sepakat bahwa hukuman bagi penghina Al-Qur’an, maupun penghina Rasulullah Saw adalah hukuman eksekusi mati. Bahkan banyak para ulama yang menulis khusus kitab-kitab yang berkenaan dengan sanksi hukum bagi penghina Al-Qur’an dan penghina Rasulullah Saw. Diantara kitab yang terkenal adalah karangan Imam as-Subki [683-756 H] yang berjudul *_“As-Syaiful Maslûl ‘Alã Man Sabba ar-Rasul”_* [Pedang yang Terhunus atas Pencela Rasul] dan selanjutnya lebih dari 350 tahun berikutnya seorang ahli hadits Imam Muhammad Hasyim bin Abdul Gafûr [1104-11743 H] juga menulis sebuah kitab yang berjudul *_“As-Saiful Jali ‘Alã Man Sabba an-Nabi “_* [Pedang yang Berkilat Atas Penghina Nabi]. https://ozydiq.wordpress.com/2016/11/09/%E2%80%8Bpenghina-al-quran-di-zaman-rasulullah-shallallaahu-alaihi-wa-wallam/https://ozydiq.wordpress.com/2016/11/09/%E2%80%8Bpenghina-al-quran-di-zaman-rasulullah-shallallaahu-alaihi-wa-wallam/