Jangan Salah Memahami Arti Barokah Dari Khidmah

Mengenai makna dari barokah yang diperoleh karena khidmah (mengabdi) di pondok itu banyak sekali masyarakat beranggapan, jika ada seorang alumni pesantren ekonominya mapan, duitnya banyak dan mobilnya mewah, keluarganya adem ayem, dianggap dia mendapt barokah dari pondok (baca : kualat), padahal kalau dilihat dari segi ibadahnya, dia masih jauh dari apa yang di cita-citakan gurunya.
Sedangkan alumni yang rajin beribadah, istiqomah shalat berjemaah, istiqomah baca al-quran dan rajin hadir ke majlis-majlis ta’lim, dianggap tidak mendapat barokah dari pondok hanya karena hidipnya yang melarat, miskin, usahanya kecil-kecilan ditambah lagi masalah-masalah yang selalu rumit dalam  keluarga dan pergaulannya.
Apakah anggapan seperti diatas itu dibenarkan????
Untuk menjawabnya, kami mengutip sebuah artikel yang ditulis di Fan Page Muhadloroh PP. Al-Anwar Sarang Mengenai arti barokah dalam khidmah
*****awal kutipan*****
“بركة العلم بالخدمة”
Keberkahan ilmu disebabkan karena khidmah

Pernyataan masyhur yang dijadikan moto oleh kalangan kaum bersarung sebagai dorongan di dalam mengemban amanah pesantren atau berkhidmah pada guru. Kalimat itu ibarat mantra mahabbah yang dibuat jopa-japu oleh seorang yang kasmaran demi meraih sang kekasihnya, bagaimana tidak…, Seorang santri mampu bertahan bertahun-tahun bahkan sampai berpuluh-puluh tahun memikul beban pekerjaan sesuai tugasnya, yang bagian mengajar, pagi sampai malam ia jalani dengan aktivitas mengajar para santri, yang bagian khidmah kepada guru, apapun pekerjaan yang didawuhkan beliau pastilah dilaksanakan tanpa menghiraukan seberapa berat tugas tersebut. Itulah bukti kesaktian kalimat itu, karena tujuan hidmah adalah barokahnya ilmu yang didapat.
Tetapi sayang dan sangat disayangkan sekali…, Sebagian dari kita yang berkhidmah salah dalam menafsiri kalimat itu, dan kesalahan tersebut bukanlah kesalahan kecil yang bisa dihiraukan begitu saja. Sebagian dari kita menafsirinya bahwa barokah tersebut adalah berupa upah dari Allah yang berupa kemanfaatan ilmu di dunianya saja, sebagian beranggapan dengan khidmah ia akan dihurmati dan diterima di masyarakatnya kelak, sebagian lagi mengatakan dengan khidmah ia akan dipermudah dalam ekonominya sehingga kalau ia muqim maka akan dipermudah oleh Allah untuk menjadi orang kaya, sebagian lagi mengira dengan hidmah mereka akan menjadi tokoh yang selalu disungkemi dan disowani oleh muhibbin-muhibbin mereka, sebagian lagi berpendapat bahwa khidmahnya akan mempermudahnya untuk menjadikanya seorang ‘alim yang banyak santrinya, sebagian ingin mendapatkan istri yang sempurna dengan barokah khidmahnya, karena itu semua adalah termasuk barokahnya ilmu, dan termasuk perkara yang bisa menjadikan barokahnya ilmu adalah khidmah.
Ya…, Saya katakan sekali lagi, itu adalah kesalahan besar. Maksud dari barokah ilmu itu bukanlah untuk mencari dunia, dan hal-hal yang dicita-citakan seperti tadi adalah perkara sesaat saja.
Barokah dan ilmu, kedua kata ini mempunyai makna yang saling berkaitan, barokah adalah sesuatu tentang bertambah dan berkembang, ilmu adalah mengerti tentang suatu hal sesuai dengan hakikatnya. Jadi barokah ilmu merupakan wujud perkembangan dan pertambahan dari pengetahuan itu sendiri. Secara prakteknya barokah ilmu bisa berupa pengamalan terhadap ilmu tersebut dan mendapatkan keikhlasan dalam beramal, sebagaimana ucapan Imam Ghozali :
طلبت العلم لغير الله فأبى العلم إلا لله
“Dulu aku mencari ilmu untuk selain Allah, kemudian ilmu tersebut tidak mau kecuali hanya untuk Allah”
Karena jika dipaksakan untuk ditafsirkan seperti tadi diatas maka akan sangat kontradiksi sekali dengan tujuan manusia diciptakan, bahwa manusia diciptakan untuk beribadah yang murni karena Allah sesuai firman Allah :
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنٙفٙاءٙ. البينة – ٥
“Mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus”
Selain itu jika ia mempunyai niatan seperti yang disebutkan diatas di dalam khidmahnya, maka secara tidak langsung pencarian ilmunya ditujukan untuk mencari hal-hal remeh tersebut. Khidmah ia jadikan tunggangan dan ilmu ia jadikan alat untuk mencari dunia. Rasulullah telah mewanti-wanti tentang ketidak ikhlasan di dalam mencari ilmu,
ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -: “ﻣﻦ ﺗﻌﻠﻢ ﻋﻠﻤﺎ ﻣﻤﺎ ﻳﺒﺘﻐﻰ ﺑﻪ ﻭﺟﻪ اﻟﻠﻪ – ﻋﺰ ﻭﺟﻞ – ﻻ ﻳﺘﻌﻠﻤﻪ ﺇﻻ ﻟﻴﺼﻴﺐ ﺑﻪ ﻋﺮﺿﺎ ﻣﻦ اﻟﺪﻧﻴﺎ، ﻟﻢ ﻳﺠﺪ ﻋﺮﻑ اﻟﺠﻨﺔ ﻳﻮﻡ اﻟﻘﻴﺎﻣﺔ” ﻳﻌﻨﻲ: ﺭﻳﺤﻬﺎ. ﺭﻭاﻩ ﺃﺑﻮ ﺩاﻭﺩ ﺑﺈﺳﻨﺎﺩ ﺻﺤﻴﺢ
“Barangsiapa yang mencari ilmu yang seharusnya dicari karena ridho Allah, tetapi ia mencarinya untuk mendapatkan dunia, maka ia tidak akan menemukan bau wanginya surga besuk di hari kiamat”
Terdapat sebuah kisah bahwa seorang laki-laki pernah mendengar maqolah :
مَنْ أَخْلَصَ للهِ أَرْبَعِينَ صَبَاحًا تَفَجَّرَتْ يَنَابِيعُ الحِكْمَةِ مِنْ قَلْبِهِ عَلَى لِسَانِه
“Barangsiapa mengikhlaskan karena Allah selama 40 hari, maka akan mengalir mata air hikmah terhadap lisanya yang keluar dari hatinya”
Dan ia pun melakukanya, tapi tidak menemukan buahnya (mengalirnya hikmah dari hatinya), ia menanyakan kepada seorang ulama’, dan dijawab : “karena engkau tidak mengikhlaskan karena Allah, tapi mengikhlaskan karena hikmah”.
اللهم اجعلنا من عباده الخالصين المخلصين
*****akhir kutipan*****
Semoga para alumni pesantren betul-betul mendapat barokah dari pondok dan para masyayikh, amin.

Komentar Facebook