Guru Langgaran Lebih Alim Dari Pada Kita

NGAJI LANGGAR IAST
Tingkat pendidikan sekarang ini, semakin hari semakain tinggi. Dulu orang-orang sebelum kita hanya mengenyam pendidikan belajar membaca al-qur’an di langgar-langgar seorang guru, sedangkan ilmu yang lain, seperti tata cara ibadah, aqidah dan akhlaq hanya diterangkan melalui lisan dengan pembahasan seadanya. Mereka harus rela lelah berjalan kaki, demi mendapat pendidikan lebih tinggi di madrasah yang begitu jauh, dan rela mengorbankan harta, demi belajar di pondok pesantren yang sangat jauh dengan alat transportasi ala kadarnya, karena pada waktu itu jarang sekali ditemukan lembaga pendidikan madrasah dan pesantren.

Karunia Allah, melalui perjuangan para guru tersebut, lahirlah generasi-generasi handal yang meneruskan perjuangan sang guru. Bersamaan dengan itu, lahir beberapa lembaga madrasah dan pesantren, dari tahun ke tahun lembaga pendidikan semakin menjamur, membuat kita sekarang ini mudah untuk belajar agama. Tidak Cuma itu, jenjang pendidikanpun semakin meningkat, jika sembelumnya hanya sampai tingkat ibtidaiyah, kemudian bertambah tingkat tsanawiyah. Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju, masalah aktual di masyarakat semakain komplek, sementara untuk menjawabnya harus melalui ilmu yang sangat tinggi, maka hal tersebut menjadi salah satu alasan banyaknya lembaga yang membuka jenjang pendidikan tingkat aliyah, dan tidak jarang kita temukan lembaga islam yang membuka perguruan tinggi.

Pengajian langgaran sampai sekarang masih ada, sebelum kita melangkah ke madrasah atau pesantren, biasanya kita mengaji al-quran, belajar huruf hijaiyah dari alif sampai ya’ dilanggar-langgar. Secara dzohiriyah banyak guru-guru kita dilanggar yang hanya bisa membaca al-qur’an, tapi tidak bisa baca kitab gundul, sementara kita setelah belajar di pesantren bisa baca banyak kitab, bahkan berjilid kitab, ada Fathul Qorib, Fathul Mu’n, Fathul Wahhab, Fathul Bari beserta fathul-fathul yang lain, apa lagi Fathul Izar, tambah pintar!. Dari kenyataan itu muncul pertanyaan, siapa sebenarnya yang lebih ‘alim, kita yang bisa baca banyak kitab gundul, atau guru yang pernah mengajar kita tapi tidak bisa baca kitab gundul?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita renungkan apa yang penulis simpulkan dari ceramah Abuya Ali Karrar Shinhaji pada acara haflah ikhtibar Madrasah Jabal Fuqoro’ Ila Rohmatillah – Pondok Pesantren Todungih. 

Beliau sangat mewanti-wanti kepada kita semua untuk selalu ta’dhim atau hormat kepada guru kita, kita tidak boleh merasa lebih ‘alim dari pada guru kita, sekalipun secara dhohirnya kita lebih pintar, meskipun kita lebih mengerti tentang kitab. Apalagi terhadap guru-guru kita di langgar, kerena secara hakikat disisi Allah mereka lebih ‘alim.

Subhanallah, betul sekali apa yang disampaikan beliau, bayangkan saja, untuk baca kitab Fathul Mu’in, kita harus tahu nahwu dan shorrof, sementara untuk memahami keduanya kita harus bisa baca tulisan arab terlebih dahulu, untuk bisa baca tulisan arab kita harus belajar huruf hijaiyah dari alif sampai ya’. Seandainya kita tidak tahu huruf hijaiyah, mana bisa kita abaca kitab fathul mi’in. Jadi tidak heran kalau Abuya Ali Karrar mengatakan pada hakikatnya mereka (guru laggaran) lebih alim dari pada kita, sebab ketika kita baca kitab Fathul Mu’in, setiap huruf yang kita baca, akan mengirim pahala yang lebih besar kepada guru-guru kita yang telah berjasa mengajari huruf hijaiyah (alif-alifan : madura) hingga kita bisa baca fathul mu’in. Dengan demikian jelaslah bahwa pahala mereka lebih besar dari pada kita,, derajat mereka lebih tinggi disisi Allah.

Pada intinya, setinggi apapun jenjang pendidikan kita, sedalam apapun ilmu kita, tidak lepas dari pada jasa guru langgar (guruh tolang : madura). Maka dari itu, sedikitpun kita tidak boleh merasa lebih pandai, lebih alim dan lebih hebat. Jika kita ingin sukses dalam kehidupan dunia maupun akhirat, maka merekalah kuncinya.
Sebenarnya, bukan hanya Abuya yang mewanti-wanti untuk hal itu, gura kita KHM. Rosyad Imam pun, beserta guru-guru yang lain, selalu member wejangan mengenahi ta’dzim terhadap guru langgar kita.

Diakhir tulisan ini, kami mengajak pada diri sendiri dan kawan-kawan alumni Pondok Pesantren Todungih, sering-seringlah mendo’akan dan mengkhususkan surah al-fatihah kepada guru-guru langgar beserta guru yang lain. Semoga Allah selalu melindungi mereka, dan semoga kita mendapatkan barokahnya, amin.

Facebook Comments
Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on RedditShare on LinkedIn

Leave a Reply

6 gagasan untuk “Guru Langgaran Lebih Alim Dari Pada Kita”

  1. I simply want to mention I’m beginner to weblog and truly loved you’re web-site. Likely I’m planning to bookmark your blog . You definitely come with terrific well written articles. With thanks for sharing your website.

  2. It didn’t used to, the Specs are Nvidia 5500gt, 1gb RAM, so on, I know it’s not the latest computer out there, it’s mostly for playing very old games or surfing the internet. The computer automatically restarts at the beginning of a streaming video, it doesn’t even try to run it. I ran the computer in safe mode with networking at was able to stream video but there was no sound. It used to be able to stream video..

  3. Hello! Someone in my FB group shared this website with us so I came to give it a look. I’m enjoying the information. I am bookmarking and will soon be tweeting this to my followers! Wonderful site and amazing design and style.

  4. I really need to reveal to you that I am new to posting and extremely valued your article. More than likely I am likely to save your blog post . You seriously have magnificent article content. Like it for telling with us your favorite domain write-up

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *